Mengulas film The Fool (дурак) 2014

Pernah membayangkan untuk tinggal di apartemen kumuh yang akan ambruk dan bertetangga dengan berbagai macam orang yang marjinal dengan berbagai masalah? Film ini memberi cukup gambaran dari situasi tersebut, keadaan sosial orang-orang pinggiran yang tidak karuan akibat dari pemimpin-pemimpin yang korup, which is sedang terjadi di mana-mana.
Begitulah film ini memulai awal cerita, dengan fokus tokoh bernama Dima (Dmitiri Nikitin) yang tinggal bersama anak, istri, dan kedua orang tuanya dalam sebuat apartemen yang sangat sempit dan kumuh.
Serem banget posternya! Source: Google

Dima adalah seorang tukang pipa yang juga seorang mahasiswa konsentrasi konstruksi tingkat dua. Saat hendak membetulkan pipa, ia menemukan retakan yang berpotensi menyebabkan keruntuhan bangunan tua yang mirip dengan bangunannya di distrik lain dalam waktu 24 jam.

Sistem yang korup

Niat baik Dima untuk menyelamatkan 800 lebih orang yang tinggal di bangunan itu tidak berjalan lancar. Ia menemui Nina Galaganova, selaku walikota yang pada malam itu sedang menyelenggarakan pesta ulang tahunnya yang ke-50. Pestanya tidak sesuai rencana tatkala Dima memberi tahu kekacauan yang akan terjadi menurut prediksinya. Nina lalu mengadakan pertemuan dengan seluruh kepala departemennya. Dalam forum itu tidak sedikit perdebatan mengenai siapa yang mengorupsi apa. Dima menyaksikan para petinggi itu saling lempar dan saling bongkar kesalahan.

Tidak ada yang bersih dari semua pejabat pemerintahan Nina. Potret dari apa yang terjadi di banyak negara dan pemerintahan. Semua orang ingin kaya dengan cara yang singkat, mudah, dan instan. Sepertinya tidak akan habis pembahasan perihal korupsi, ya!

Potret marjinalitas

Agaknya film ini menampilkan kapitalisme yang mulai menggeser paham-paham yang lain. Kapitalisme yang meminggirkan yang sudah marjinal, dan mengetengahkan yang sudah berada. Walikota Nina pun mengakui korupsinya demi proyek pribadi dan kehidupan pribadinya sendiri. Menecuri sebagian uang yang dibayar penghuni apartemen kumuh itu. Juga ironi yang begitu nyata di negeri lahirnya paham Leninisme, Uni Soviet. Meskipun kisah ini merupakan fiksi karya Yuri Bykov.
Beberapa pejabat meragukan hipotesis Dima dan mereka mengecek keadaan bangunan itu. Terlihat kumpulan remaja nakal yang lagi nyimeng bersama. Remaja, yang merupakan tunas pemimpin masa depan. Perlu diketahui bahwa kenakalan remaja adalah protes atas kehidupan mereka, buah dari akar pohon yang tidak bagus. Ada pula keluarga yang jauh dari gambaran keluarga pada umumnya.Suami menghabisi istri dan anak. Orang-orang tua yang kerjanya hanya berjudi. Banyak yang tidak terlihat oleh para pejabat ini. Jauh dari kehidupan layak mereka.
Ngerokok bersama kawan-kawan

Mempercayai bahwa bangunan akan runtuh, Nina mengambil tindakan yaitu memanggil Fedotov, dan Matugin selaku pejabat yang bertanggung jawab akan runtuhnya bangunan itu. Bersama Dima, mereka bertiga dibawa oleh Sayapin, selaku kepala polisi. Di jalan, mereka menyadari bahwa mereka akan dieksekusi dan berniat untuk kabur. Tetapi, mereka langsung dieksekusi, demi menutupi jejak Nina yang hendak kabur. Fedotov membiarkan Dima pergi dengan syarat, Dima harus segera membawa pergi keluarganya jauh dari kota itu dan tutup mulut atas apa yang ia lihat.
Dalam pelarian Dima bersama anak istrinya, ia menyadari bahwa Nina tidak melakukan evakuasi penghuni bangunan itu.

Kebodohan

Dima pun bertengkar dengan istrinya, menyuruh istrinya membawa anaknya pergi. Dima pun pulang, mengajak ayahnya berdiskusi. Ibu Dima marah besar akan kebodohan Dima tidak jadi kabur.
Ketika matahari sudah terbit, Dima segera menuju bangunan berbahaya itu, menggedor setiap pintu untuk menyuruh warga segera menjauh dari bangunan.
Mengetahui tidak terjadi apa-apa pada bangunan yang dielukan akan segera runtuh, warga marah dan menghabisi Dima karena dinilai hanya mengerjai warga. Cerita berakhir dengan Dima yang tak berdaya di jalanan dan warga kembali ke dalam apartemen masing-masing.
Dima malang ditinggalkan

Saya pribadi awalnya kesal dan tidak terima dengan ending seperti itu hahaha.. Tapi, mari kita telaah kembali, dengan judul Дурак (re: durak - si bodoh) tidak ada salahnya film ini berakhir dengan seperti itu, menunjukan konsistensi pencipta fiksi ini dengan judul "si bodoh".
Penonton terbasiasa berekspektasi menciptakan happy ending, mungkin dengan runtuhnya bangunan itu dan Dima menjadi pahlawan dari 800 lebih penghuni apartemen kumuh itu penonton akan merasa puas. Penulis begitu tega menciptakan ending yang tak terduga! hahaha.. But that's the best point of this story that I like most.
Penulis ingin menyampaikan bahwa kejujuran dan kebaikan tidak akan menjadi hal yang baik jika tidak diimbangi dengan fakta dan pengetahuan yang cukup. Dima berniat baik ingin menyelamatkan warga, tetapi ia salah memprediksi bahwa bangunan itu masih berdiri meskipun telah miring beberapa derajat. Justru itu menjadi bumerang untuk diri Dima karena ia hidup di lingkungan yang korup dan sosial yang tidak mempercayai kejujuran dan kebaikan akan memperbaiki taraf hidup seseorang.

Komentar

  1. Waah keren informasinya..mantap..ending yang tak terduga dari sang penulis..meskipun sedikit kasian sama dima :(

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer