[draft 2018] Touring sedetik ke Jepara!

Sabtu, 18 Agustus 2018 kami memutuskan untuk tuoring ke Jepara yeayy! Mengapa Jepara? Satu alasan utama, yaitu salah seorang sahabat kami (Tiu) KKN di Jepara tepatnya di desa Blingoh dan kedua, karena kami tidak ada kegiatan plus rindu Tiu. Awalnya rencana kami hanya pergi 2 hari 1 malam. Tapi karena ku rasa waktunya akan habis di jalan, aku mendesak Beton untuk memperpanjang perjalanan kami menjadi 3 hari 2 malam walau sempat ngotot beradu waktu.

Kami bertolak dari rumahku di Weleri pada pukul 13.30 setelah shalat dhuhur yang dijamak. Formasi awal aku bersama Beton karena Beton ada urusan di HP-nya, tapi setelah beres aku bersama Belez sampai Demak. Tugasku mencari jalan menggunakan GPS karena Beton dan Belez tidak mumpuni membaca GPS. Beton tidak suka arahan maps, ia lebih suka mencari dengan logikanya sendiri dan itu menghabiskan waktu yang lebih lama, sedangkan Beles tidak tahu kanan-kiri, akibatnya bisa nyasar dan risiko sinyal hilang pun ada karena perjalanan tidak melalui kota saja.

Kami beristirahat sejenak di pinggir jalan untuk makan mie ayam. Mie ayamnya enak, ada mie ayam goreng juga. Aku lupa foto tempat makannya tapi ada di sekitar sebelum pasar Buyaran kalau dari arah Semarang. setelah itu kami lanjut perjalanan.  Dari Weleri kami mengikuti jalan pantura sampai Welahan, kami belok kiri dan menuju Jepara. Saat itu banyak jalanan yang sedang dibeton dan kebetulan sedang musim nikahan. Sempat terkendala macet dalam beberapa titik, ada yang hanya beberapa meter, ada yang macetnya hampir 1,5 kilometer. 

Sudah masuk kabupaten Jepara, beton dari belakang menglakson aku dan Belez.
"tung! tung!! Jangan baper ya! tau gak kita berada di daerah apa? KALINYAMANTAN!" Beton ngakak.
"Heh sembarangan! Kalinyamatan keles! kebanyakan N ah" kami bertiga ngakak sambil mikir. Nama di daerah Jepara aneh-aneh. Kalinyamat, Bangsri, Blingoh, Batealit, dll. Tidak seperti di Jawa pada umumnya yang banyak sari-sari di belakangnya.

lupa di daerah mana, kalau tidak salah bukit-bukit di ujung itu yang disebut gn. Muria. yah, ada mbak-mbak nyempil.

Perjalanan dari Demak sendiri cukup lama. dari Weleri pukul 13.30, kami sampai Demak saat adzan ashar, sekitar jam tiga sore, sedangkan dari Demak ke Blingoh memakan waktu hampir 4 jam. Kami jarang berbicara di jalan, hanya aku yang memberi arahan kepada Belez sebagai driver utama. Yang kami lihat sepanjang Welahan-Bangsri adalah jalan, jembatan, kebon-kebon, perempatan, rumah-rumah, masjid. Jembatan lagi, masjid, perempatan, gitu aja. Sepertinya di Jepara setiap 200 meter ada masjid besar. Kami senang sekali dalam perjalanan ini, suasananya sangat berbeda dengan di kampung kami yang bising. Jalanannya pun berliku-liku, tidak lurus seperti pantura😂 Kami sering kali bablas ketika di enggok-enggokan, maksudnya di belokan. Jadi jalan utamanya belok, tapi kalau lurus masuk kampung dengan jalan yang lebih kecil. Belez sering susah mengontrol kecepatan ketika di belokan, akibatnya kami masuk kampung dan harus putar balik, Beton yang di belakang hanya kebingungan 😂

Matahari mulai surup ketika kami baru melewati Bangsri. selanjutnya perjalanan dalam maghrib kami lanjutkan. Agak menyeramkan ketika menuju Blingoh jalanan yang kami lewati berkelok-kelok semestinya di perbukitan, pohon-pohon tinggi yang agak mendoyong karena mengikuti sinar mentari, tanah lapang yang diratakan, jembatan besar, dan ketenangan. Suasananya mengingatkanku pada kampung halaman ketika aku masih kecil. Dulu Weleri tidak sebising sekarang dan mungkin Jepara akan bising dalam tahun-tahun mendatang. 

Dalam hitungan jam, aku larut dalam euforia. Ada rindu yang terselip dalam perjalanan ini, entah merindui apa, mungkin suasana masa kecil itu, dan bercampur dengan perasaan yang tidak dapat ku jelaskan.

Sekitar pukul 18.40 kami tiba di posko KKN Tiu. Kami bersih-bersih secara bergantian. Beruntung beberapa teman KKN Tiu pulang, jadi kami bisa ditampung. Malam itu, ada pembukaan Asian Games Jakarta-Palembang 2018, kami menonton lewat live streaming karena TV di posko rusak. Sebelum menonton pembukaan, kami jajan cemilan di minimarket terdekat. Belez tidak ingin mengenakan hijab ketika jajan dan waktu itu banyak orang yang baru turun dari masjid. Ada pandangan yang kurang enak adanya, ternyata muslim di Jepara lebih kental daripada di tempat kami. Anak-anak kecil sudah mengenakan hijab.









Komentar

Postingan Populer