Mengulas novel RINDU - Tere Liye

Judul buku: Rindu 
Penulis: Darwis Tere Liye 
Penerbit: Republika Penerbit 
Cetakan I, Oktober 2014 
Tebal buku: ii + 544 halaman. ; 13.5x20.5 cm 
Harga buku: Rp. 63.000,00 (tbodelisa) 

SINOPSIS 

Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?
Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?
Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.
Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.
Selamat membaca.

***
Kerinduan yang hakiki

Rindu. Merupakan karya ke-20 seorang penulis mega-best seller, Darwis Tere Liye, atau dikenal dengan nama pena Tere Liye. Dalam karyanya yang ke-20 ini, penulis mengajak pembaca untuk keluar dari persepsi yang sempit mengenai kerinduan, memandang kerinduan dari perspektif yang berbeda. Kerinduan dalam arti yang lebih luas dan sejati. 

Rindu. Dengan desain cover yang manis dan simple, mungkin yang sempat terlintas di benak pembaca adalah novel yang menceritakan kisah tentang romansa kerinduan yang dikemas dalam kesederhanaan seperti ciri khas karya Tere Liye yang lain. Tetapi, kali ini penulis memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai kerinduan yang tidak melulu merupakan romansa, melainkan juga kerinduan kepada sang pencipta, kerinduan akan beribadah, dan kerinduan untuk merdeka.

Penulis juga mengajak pembaca menjadi time traveller dengan membaca dan berimajinasi tentang kisah yang bermula di penghujung tahun 1938, 7 tahun sebelum Indonesia merdeka, saat Indonesia bernama Hindia-Belanda. Melalui latar yang tidak terduga, yaitu sebuah kapal penumpang haji bernama BLITAR HOLLAND, mengalir 5 pertanyaan oleh 5 orang tokoh dengan latar belakang yang berbeda pula.

Pada awal cerita, kapal BLITAR HOLLAND ini berlabuh di pelabuhan Makassar untuk menaikkan rombongan haji dari daerah tersebut, lalu berlabuh di pelabuhan-pelabuhan besar lain seperti Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Aceh, dll, untuk menaikkan penumpang lain. Pengenalan cerita diawali dengan naiknya seorang saudagar kaya pada zaman itu ke kapal BLITAR HOLLAND, yang bernama Daeng Andipati beserta istri, kedua anaknya, dan asisten rumah tangganya untuk menunaikan ibadah haji. Kedua anak Daeng Andipati inilah yang menjadi penghubung dari 5 pertanyaan dan kisah dalam perjalanan besar ini. Adalah Anna dan Elsa, kedua putri Daeng Andipati yang ceria dan menyenangkan bagi setiap orang yang bertemu dengan mereka. Tetapi, salah satu dari pertanyaan tersebut tidak keluar dari kedua gadis ceria itu, melainkan ayahnya. Pertanyaan yang telah Ia simpan dan selalu menghantuinya dalam perjalanan besar ini. Dengan cara yang mengalir sederhana pula, tokoh-tokoh lain diperkenalkan, tersebutlah seorang ulama masyhur pada masa itu yaitu Ahmad Karaeng, atau biasa dipanggil dengan Gurutta. Seorang pelaut pendiam yang menjadi kelasi di kapal BLITAR HOLLAND. Seorang muslimah chinese yang biasa dipanggil dengan panggilan Bonda Upe. Dan Sepasang pasangan lanjut usia dari jawa. 4 kisah yang mengantarkan masing-masing sebuah pertanyaan kepada Gurutta. Tetapi pertanyaan terakhir justru datang dari Gurutta yang tak terjawab dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan dan perjuangan. 

Novel ini sarat akan pesan moral yang cocok untuk dibaca kalangan manapun. Amanat yang tidak hanya sebuah garis besar, tetapi juga nilai-nilai dan pemahaman yang baik di setiap bab-nya. Dikemas dalam bingkai kesederhanaan yang membuat cerita mengalir apa adanya dan tidak memaksa jalan cerita. Latar yang anti-mainstream membangun imajinasi pembaca keluar dari zona aman dan kejenuhan akan latar yang itu-itu saja. Rindu bak oase di tengah kekeringan moral saat ini.

Sebuah karya pasti juga memiliki titik kekurangan, begitu juga novel Rindu ini. Penggambaran yang terlalu detail membuat cerita lebih panjang dan pembaca membutuhkan waktu yang lebih untuk membacanya. Klimaks yang disajikan di akhir cerita pun membawa kesan datar dalam konflik-konflik sebelumnya. Penggambaran kegiatan keseharian dalam kapal yang terlalu runtut terkadang membuat pembaca lupa akan apa yang sedang pembaca ingin ketahui mengenai pertenyaan-pertanyaan yang akan disajikan. 

Overall, novel Rindu ini perlu dibaca masyarakat terutama remaja yang pola pikirnya masih berkembang dan dalam proses pencarian jati diri. Tetapi pembaca juga harus pandai-pandai mengatur waktu untuk dapat menyelami dan menguasai pesan moral yang terkandung dalam novel ini.

ditulis oleh: Novita Ibnati Awalia 

Komentar

Postingan Populer