Selamat jalan....
"jempitung..... Kamu pulang.... Pulang!" Suara di ujung telepon terisak, bercampur frustasi dan sedih.
"Iya aku pasti pulang, tapi baru otw nanti malam. Gapapa yah?" Aku mencoba tenang walau buyar.
"Jempitung... Harus gimana? Jempitung.... Jatu..." Suaranya makin terisak dan sumbang.
"Doain supaya dia bisa diselamatin"
"Gak bisa... Jempitung... Jatu udah gak ada... Jatu meninggal" ia tak lagi berkata-kata. Hanya isakan yang tak kunjung mereda.
"Iya aku pasti pulang, tapi baru otw nanti malam. Gapapa yah?" Aku mencoba tenang walau buyar.
"Jempitung... Harus gimana? Jempitung.... Jatu..." Suaranya makin terisak dan sumbang.
"Doain supaya dia bisa diselamatin"
"Gak bisa... Jempitung... Jatu udah gak ada... Jatu meninggal" ia tak lagi berkata-kata. Hanya isakan yang tak kunjung mereda.
"Gak mungkin!! Kamu pasti bohong! Gak mungkin secepat ini!! Tiu bohong! Aku gak percaya!" Hanya kata-kata klise itu yang keluar dari mulutku. Klise namun nyata dan menyakitkan. Kami terisak. Telepon ditutup. Segera kutinggalkan pekerjaanku dan pulang ke kosan, menangis sepanjang jalan.
...
Dini hari aku baru sampai di rumah. Istirahat sejenak karena banyak yang mengganggu pikiran, akibatnya tidak bisa tidur hingga pagi datang, aku hanya berpikir dan merenung. Lalu aku menuju rumah Tiu ditemani bapak. Kami berangkat menuju rumah almarhumah bersama. Beruntung jenazah dimakamkan keesokan paginya walau kami tidak sanggup untuk melihat jenazahnya.
...
Dini hari aku baru sampai di rumah. Istirahat sejenak karena banyak yang mengganggu pikiran, akibatnya tidak bisa tidur hingga pagi datang, aku hanya berpikir dan merenung. Lalu aku menuju rumah Tiu ditemani bapak. Kami berangkat menuju rumah almarhumah bersama. Beruntung jenazah dimakamkan keesokan paginya walau kami tidak sanggup untuk melihat jenazahnya.
Dalam perjalanan, kami hanya diam, berbicara melalui mata, hingga tiba-tiba bahu Tiu terguncang, tangisannya tak lagi bersuara. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana, aku harus kuat untuk menguatkan Tiu, sedang aku benar-benar hancur. Aku kehilangan, tetapi aku ingat bahwa Tiu kehilangan sekaligus menyaksikan kecelakaan itu. Aku tak tahu bagaimana detil dan kronologi kecelakaan itu, aku hanya tahu satu kata; parah. Separah apa, hanya bisa ku terka dari panggilan pertama Tiu yang berbicara dengan panik, berteriak, dan frustasi.
Di rumah almarhumah ramai, penuh orang, dan rasanya aneh sekali rumah yang biasanya sepi kami datangi, tiba-tiba riuh. Rasanya tidak percaya melihat ucapan bela sungkawa dengan karangan bunga bertuliskan nama sahabat dekat kami. Orang-orang berbincang riuh terdengar seperti tawon di telingaku. Aku kalut, sedih, marah, dan terharu. Melihat orang-orang jahat yang berkamuflase menjadi pelayat dan wartawan dadakan membuatku benci berada di rumah itu.
Ketika kami datang, orang-orang mengerubungi kami layaknya lalat melihat danging.
"Oh mbak yang kecelakaan sama almarhumah?"
"Yang mana sih? Yang itu ya?"
"Itu dia yang bawa motornya tuh pasti"
"Sebenernya ketabrak apa sih mbak?"
"Kok bisa kecelakaan gimana ceritanya mbak?"
Jahat. Demi rasa ingin tahu, mereka memberi beban mental kepada sahabatku begitu berat. Jelas Tiu tidak sanggup menceritakan hal itu. Dengan bercerita, ia mengingat hal yang menimpanya, mengamplas luka yang masih segar. Sahabat dekatnya meninggal karena kecelakaan, bersamanya. Itu sudah cukup membuat trauma dan guncangan yang besar dalam jiwanya. Mengapa orang bisa sejahat itu?
Ketika kami datang, orang-orang mengerubungi kami layaknya lalat melihat danging.
"Oh mbak yang kecelakaan sama almarhumah?"
"Yang mana sih? Yang itu ya?"
"Itu dia yang bawa motornya tuh pasti"
"Sebenernya ketabrak apa sih mbak?"
"Kok bisa kecelakaan gimana ceritanya mbak?"
Jahat. Demi rasa ingin tahu, mereka memberi beban mental kepada sahabatku begitu berat. Jelas Tiu tidak sanggup menceritakan hal itu. Dengan bercerita, ia mengingat hal yang menimpanya, mengamplas luka yang masih segar. Sahabat dekatnya meninggal karena kecelakaan, bersamanya. Itu sudah cukup membuat trauma dan guncangan yang besar dalam jiwanya. Mengapa orang bisa sejahat itu?
Kami bertemu orang tua Beton. Tanpa banyak kata beliau memelukku dan Tiu, mencium kepala kami layaknya anaknya sendiri. Baru kali ini aku merasakan ikatan batin yang begitu kuat. Tangisku tak hanya sedih, namun juga bingung memproses semua yang terjadi mendadak. Orang tuaku, orang tua Tiu, dan orang tua Beton berdiskusi bagaimana cara memberi klarifikasi kepada keluarga almarhumah karena suasana terlanjur keruh, orang-orang menyudutkan Tiu. Ah, tidak hanya kami yang bersahabat, namun orang tua kami juga. Aku sangat bersyukur memiliki orang tua yang suportif dan mampu bersinergis dengan orang tua Tiu dan Beton. Baru ku rasakan, keluarga tidak harus hubungan darah.
Setelah perasaanku membaik, aku mencoba melihat dari sudut pandang lain. Tuhan memberi anugerah yang sangat indah pada persahabatan kami. Tiu dipilih Tuhan untuk menjadi orang terakhir yang bersama almarhumah, karena almarhumah sayang Tiu, karena Tiu akan kuat menghadapi semua ini, karena Tiu lah orang terpilih itu. Almarhumah beruntung, karena mati muda. Seperti kata Soe Hok Gie. Nasib baik adalah tidak dilahirkan, yang kedua adalah mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Kurang lebih.
Mengapa? Karena Jatu anak yang baik. Dosanya mungkin tidak banyak. Tuhan memanggilnya karena Tuhan sayang. Ia tidak perlu bertemu orang-orang jahat yang ada di dunia, tidak perlu pusing memikirkan kerja di mana, menikah kapan, dan yang lainnya.
Kami yang ditinggalkan harus ikhlas. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Semua milik sang pencipta dan kepada-Nya lah kita akan kembali. Kami yang ditinggalkan tidak boleh menjadi pemberat timbangan dosanya.
Mengapa takut akan kematian? Ketika kita mati, kita menghadap yang maha kuasa, Rabbi yang kita sembah. Bukankah itu adalah obat rindu kepada Tuhan? Kematian adalah misteri karena manusia tidak tahu pasti apa yang terjadi setelahnya. Kita hidup, ya ujungnua mati. Absolut. Yang relatif adalah bagaimana cara kita mempersiapkan bekal sesuai kepercayaan masing-masing.
Kadang aku berpikir. Raga hanyalah tempat kita yang sementara, medium di dunia ini saja. Ketika mati, raga sudah tidak berguna. Hanya ruh yang ada. Sebuah pengingat pada diri sendiri bahwa aku boleh mencintai ragaku, menerima ragaku, dan berbuat baik pada ragaku sendiri. Namun, itu tidak cukup, ruh harus 'diberi asupan' pula.
Teringat tulisanku 2 tahun lalu tentang kematian hehehe
Sebagai penutup.
Persahabatan tidak pernah berakhir. Terimakasih telah menjadi #friendshipgoals bagi kami. Terimakasih telah menjadi sosok yang sangat berpendirian dan unik. Semoga dapat bertemu pada kehidupan selanjutnya. Semua orang menyayangi Jatu



Komentar
Posting Komentar