Menumbuhkan Kebutuhan Membaca Sejak Dini
Menurut wikipedia, literasi adalah
istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan
individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah
pada tingkat tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut
saya, rumpun keterampilan tersebut berdasar pada membaca. Membaca merupakan
kegiatan memasukkan informasi, yang kemudian diolah, dan menjadi keluaran
berupa kemampuan-kemampuan literasi.
Sebagai seorang muslim, saya ingat sekali cerita mengenai
turunnya ayat suci pertama kali yaitu, ‘Iqro”. Malaikat mendesak Rasulullah
untuk membaca meskipun beliau tidak bisa membaca hingga beberapa kali. Hati
saya masih bergetar mengingat cerita itu. Dari situ saya mulai mengerti, betapa
pentingnya membaca karena membaca pun perintah Tuhan.
Lingkup budaya literasi terkecil dan paling berpengaruh
adalah keluarga. Melalui tulisan ini, saya utarakan rasa syukur saya karena
diahirkan di keluarga yang suportif dalam tubuh-kembang saya. Terlahir dari
rahim seorang pendidik, saya mendapat pengajaran dari ibu yang tegas dan sadar
akan pentingnya kegiatan membaca. Meskipun begitu, saya tidak pernah mendapat
paksaan untuk membaca.
Seingat saya, saya mulai menyukai membaca sejak menemukan
buku-buku cerita bergambar di rak buku. Banyak yang saya baca berulang-ulang
karena menyukai alur cerita dan pesan moral yang disampaikan. Sebagai anak
kecil, saya lebih suka ‘diatur’ melalui cerita karena dapat mengetahui contoh
kongkrit dibanding dengan larangan-larangan verbal. Larangan verbal menimbulkan
rasa ingin tahu. Alih-alih menjauhinya, anak kecil cenderung ingin tahu dan
melakukan hal sebaliknya.
Setelah buku-buku cerita, saya mengenal majalah kelinci
anak-anak. Saya senang mengikuti cerita bergambar keluarga kelinci, Nirmala, dan
Bona Rong-rong, juga mulai ingin berpartisipasi dalam rubrik sahabat pena. Saat
itu internet belum masif. Ibu pun berlangganan majalah kelinci itu untuk saya.
Saya semakin gemar menanti majalah baru, apalagi ketika ada edisi khusus
bersambung seperti Dinosaurus dan hadiah-hadiah kecil seperti pin, patch,
hiasan meja, dll. Rasanya seperti punya dunia sendiri dibanding teman-teman sepermainan
saya.
Semakin saya tumbuh, bacaan saya pun berubah, dari majalah
dan buku cerita menjadi majalah remaja dan novel-novel fiksi. Dari majalah
remaja itu, banyak saya belajar tentang menjadi remaja dan mengerti diri
sendiri. Saya juga mulai menyisihkan uang untuk membeli novel terutama karya
Tere Liye, saya tumbuh dengan karya-karya beliau yang sarat akan pesan moral.
Saya menyadari, hingga saat ini bacaan saya pun semakin berkembang
dan saya sangat menyukai literatur. Lalu memulai filsafat karena pencarian diri
saya pribadi. Namun, saya juga tidak membatasi bacaan saya karena buku apa pun
dapat bermanfaat.
Meskipun dekat dengan bidang pendidikan, keluarga saya sibuk,
saya pun lebih sering sendirian dibanding dengan dampingan orang tua. Saya
tidak memiliki waktu bersama orang tua sebanyak teman-teman saya. Namun, itu
bukan alasan bagi orang tua saya untuk membiarkan saya tanpa koridor dan
pengawasan. Pernah suatu kali, beberapa nilai ulangan saya sangat jelek dan
saya kedapatan menyembunyikan beberapa volume komik detektif di dalam tas. Saya
dimarahi. Komik itu disita sampai saya benar-benar berkomitmen untuk membagi waktu.
Saat itu saya kesal bukan karena dimarahi, tetapi penasaran dengan kelanjutan
cerita detektif itu.
Melalui pengalaman saya, saya simpulkan bahwa peran keluarga
dalam menumbuhkan budaya literasi adalah mencari tau metode yang tepat untuk
mulai mengenalkan literasi kepada anak. Setiap individu adalah makhluk yang
berbeda, sehingga budaya dalam keluarga pasti terbentuk berbeda-beda pula. Oleh
karena itu, orang tua dan anak sama-sama belajar dalam menciptakan budaya
literasi dalam keluarga. Orang tua belajar tentang anaknya sebagai individu,
sedangkan anak belajar melalui orang tua untuk pertumbuhan dan pembentukan
dirinya. Budaya pun dapat terjalin secara dua arah dan berkembang lebih baik.
Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, berpendapat bahwa
hanya perlu sebuah buku untuk jatuh cinta pada membaca. Saya menyetujuinya karena
hal itu pun terjadi pada diri saya sendiri. Tugas orang tua adalah sebagai fasilitator
anak untuk menemukan buku tersebut.
Setelah kesadaran literasi muncul, peran berikutnya adalah
mengembangkannya melalui dukungan dan support sistem yang baik. Peran
keluarga sangat besar dalam membudayakan literasi karena betanggung jawab untuk
menjadi ‘pondasi’ awal. Setelah keluarga, ada masyarakat yang juga memiliki
peran dalam budaya literasi, yaitu menjadi lingkup setelah keluarga sebagai
wadah atau sarana berliterasi secara praktis.
Lingkungan yang saya tinggali tergolong memiliki budaya
literasi yang rendah. Saat ini masyarakat lebih menyenangi internet dibanding
buku dan karya sastra. Padahal dengan literasi kita bisa mendapatkan kemampuan
untuk memilah informasi. Rendahnya literasi dapat dilihat dari sebaran hoaks
yang marak, toleransi yang makin luntur, empati yang dangkal, dan banyak hal
yang merugikan diri dan masyarakat iru sendiri. Saya semakin sadar akan
rendahnya literasi di lingkungan saya ketika saya belajar di program studi
sastra Rusia. Orang-orang Rusia sangat menghargai karya-karya sastra sejak dari
anak-anak. Perbedaan ini sangat signifikan dibandingkan dengan budaya di
lingkungan saya.
Saya menyadari bahwa mengubah masyarakat perlu usaha yang
besar. Karena saya juga bagian dari masyarakat, saya berkomitmen untuk
memulainya dari diri saya sendiri dan orang-orang terdekat. Bagi saya, membaca
sudah bukan lagi hobi, tetapi kebutuhan, dan upaya memperkaya diri dengan
pengetahuan.
Novita Ibnati Awalia.
#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga


Komentar
Posting Komentar