Katanya cinta, kenapa orang pacaran bisa putus? | #BincangBucin
Rasanya udah lama banget nggak ngeblog lagi sejak skripsian. Kali ini aku balik dengan ide konten baru yaitu #BincangBucin. Baru ku sadari kalau banyak orang yang curhat ke aku masalah percintaan ciyeeh dan masalahnya beragam. Aku sadari juga meskipun beragam itu selalu ada pola yang kalau ditarik garis besar ya sebenernya mirip-mirip.
Ada hal yang membuatku heran. Kok bisa ya orang pacaran, putus? kan cinta? Apalagi di awal-awal selalu pakai komitmen atau minimal kata-kata manis kaya: Aku cuma cinta sama kamu, ga bisa hidup tanpa kamu, aku bakal setia sehidup semati sama kamu, ayo kita berjuang hingga ke pelaminan.
Aku sendiri mengalaminya. Ketika putus, rasanya kata-kata itu cuma bullshit. Padahal di awal hubungan kata-kata itu selalu membakar rasa cinta yang sedang berapi-api banget. Rasanya semua yang dia ucapkan itu manis dan bikin hati berbunga. Sebuah kontradiksi.
Jadi, setelah aku selidiki dan analisa melalui pengalaman dan berbagai curhatan temen, aku ambil beberapa poin yang menurutku jadi masalah sejuta umat para bucin. Kenapa bisa putus?
1. Passive-aggressive alias kode-kodean.
"Kamu kenapa?"
"Gpp" tapi mukanya jutek.
Banyak banget kasus yang begini. Ada yang tiba-tiba DPnya ilang, pasang status item pake lagu sedih. Ada yang bikin story kode-kodean. Ada juga yang ngambek karena minta diperhatiin.Kadang aku suka gemes ngeliatnya. Sebenernya masalahnya nggak segede itu tapi reaksi dari masalah itu yang bikin makin gede. Ketika ditanya, kenapa reaksi kamu begitu? jawabannya macem-macem, ada yang gengsi kalo ngomong langsung, pengen dingertiin tanpa ngomong.
Faktanya, orang lain ga akan ngerti kalo kita main kode-kodean. Komunikasi yang baik ini bisa mangkas waktu dan nyeleksi orang, loh! Kita ga akan buang waktu kode-kodean eh ternyata ga cocok sama pasangan kita. Make it as simple and clear as you can. Drama cuma bikin capek dan kita ga dapet apa-apa dari drama.
2. Makin lama, pasangan berubah
Nggak. Orang nggak berubah, cuma sifat aslinya aja keluar. Jelas kalo PDKT kebanyakan bakal kasih effort yang lebih agar disukai kan? Memertahankan lebih sulit dari mendapatkan, kata orang. Kata aku, itu tanda kalo nggak cocok. Menurutku pacaran adalah proses menemukan "the one". So called perjuangan itu bikin capek.
Kita cenderung melihat kelebihannya, perhatian dia ke kita, perjuangan dia ke kita. Tapi kita lupa melihat kekurangan dia yang kadang nyebelin. Pasti ada satu dua sifat buruk orang yang nyebelin. Kita yang silau akan sisi plusnya dia kaget melihat minusnya. Penting buat nyari tau 'potensi' nyebelinnya pas pacaran buat memikirkan kita kuat nggak dengan sifat itu? Kita bisa nggak nerima sifat buruknya dia? Ini setara dengan worst case scenario, di mana ketika yang baik terjadi ya syukur, tp kalo yg buruknya muncul kita bisa handle. Mencintai kekurangan memang terdengar absurd tapi itu yang mendekati realita kebahagiaan.
3. Peperangan perasaan vs pemikiran
Loh, namanya juga pacaran, pasti pakai perasaan dong! Emangnya kita robot, nggak pakai perasaan?
Gimana kalo aku kasih konsep bahwa, kita punya kekuatan untuk mengendalikan perasaan loh! Konsep ini berseberangan banget sama keniscayaan perasaan vs pemikiran. Dulu aku juga mikir kalo dalam diriku itu selalu ada peperangan antara perasaan vs pemikiran, sampe aku capek 'disiksa' perasaan sendiri. Bisa ga sih bikin tombol switch di otak biar ga tersiksa gini?
Setelah melalui puluhan purnama merenung buseeet aku ketemu sama buku Filosofi Teras, yang punya jawaban atas pertanyaanku itu. Kabar baiknya, kita punya kendali atas perasaan kita. Perasaan bukanlah musuh yang harus kita perangi, dia perlu diselidiki dan dikendalikan sumbernya. Ternyata tombol switch itu ga ada, yang ada itu kemudi yang kita gunakan secara manual. Di sinilah kelebihan manusia yang bisa mengemudikan dirinya, sehingga dirinya ga mudah terombang-ambing dan remuk akibat perasaan.
4. Mencintai tanpa rasionalitas
Hanya mengandalkan perasaan dalam sebuah hubungan adalah kesalahan fatal. Menurutku, perasaan sifatnya fluktuatif, selalu akan naik turun karena pengaruh situasi. Mustahil bagi manusia untuk memertahankan perasaan untuk selalu berada pada puncaknya. Begitu pula dengan perasaan menyukai orang lain. Belum lagi pasti ada aja masalah yang datang.
Karena alasan itu, butuh mencintai seseorang dengan penuh rasionalitas. Sebelum aku memutuskan untuk jatuh cinta pada seseorang, aku tanya pada diriku. Bisa nggak aku mencintai dia dengan kepalaku? Bisa nggak aku mencintai isi kepala dia? Iya, jatuh cinta adalah keputusan sebelum semuanya terlanjur jauh. Kita punya kendali untuk perasaan kita, bukan sebaliknya. Kita punya kekuatan itu. Mungkin ini pengaruh overthinking-ku dan usia yang udah nggak punya banyak waktu buat ngebucin sih wkkwkw
5. Memberikan janji saat senang.
Aku sering banget lihat quote yang bilang. "do not promise when you are happy. do not respond when you are angry. do not decide when you are sad" Menurutku ini relevan banget buat kehidupan, nggak cuma tentang percintaan aja. Janji yang dibikin pas perasaan hepi biasanya hanya delusi sebab keputusan yang dibikin nggak pakai pertimbangan rasional. Balik lagi ke poin sebelumnya. Kita harus punya nalar rasional atas apa yang kita putuskan, meskipun ini urusan percintaan. Pacaran kaya mau bikin skripsi aja harus logis wkwkwk
Sebetulnya ketiga poin terakhir intinya adalah kendali diri dalam hubungan. Akal rasional kita yang bisa mikir mana yang baik dan mendeteksi ancaman kekecewaan. Sebab itu, kita bisa bahagia dan less problem. Kebanyakan beban masalah itu justru dari reaksi kita bukan dari masalahnya sendiri.
Jadi, itu 5 poin yang sejauh ini aku pikirin sering jadi masalah hubungan yang ga sukses. Feel free buat kasih poin lagi kalau kamu temuin alasan lain ya! Tunggu #BincangBucin lainnya!


Komentar
Posting Komentar