Sepotong Warna Abu-abu

Jika bicara mengenai depresi, mayoritas orang merespon "halah depresi gitu doang, aku juga kali, tapi aku blablabla".
Mendengarkannya tentu membuatku sedih. Tapi bukan aku ingin diperlakukan spesial karena aku depresi. Sungguh, bukan.
Ini cukup sulit bagiku ketika siklus itu mulai muncul. Siklus di mana aku 'malas' mencuci muka dan sikat gigi sebelum tidur karena aku sudah tidak peduli apa pun. Siklus ketika aku hanya bisa menangis dan merasakan kesakitan tak kasat mata. Siklus ketika kamarku terlihat super berantakan karena aku di puncak ketidakpedulian.
Aku marah. Aku marah karena aku 'malas'. Sungguh rasanya aku ingin membunuh dia yang ada di diriku yang benar-benar mengganggu.
Dia tak hanya membuatku malas, dia membuatku membaca sebuah paragraf sebanyak 3 kali karena otakku gagal memproses. Dia membuatku tak bisa melakukan hal yang seharusnya mudah. 
Biasanya aku membaik ketika aku mewarnai rambut, atau memangkasnya. Selain itu, aku puas menyiksa diri seperti mencabut alis dan waxing. 
Tapi aku juga membaik dengan menulis. Contohnya tulisan ini. Perasaanku cukup membaik jika aku mampu mengurai sedikit benang kusut yang ada di otakku.

Komentar

Postingan Populer