Aku Anak PNS, Tapi Nggak Mau Jadi PNS!
Bagi para dewasa muda seperempat abad, katanya, ada krisis hidup yang akan kita jalani di usia ini. Namanya "Quarter Life Crisis". Yup, inilah yang sedang aku rasakan. Bingung dengan karier, asmara, hingga kesehatan (macam ramalan zodiak!). Tapi, kali ini aku pengen cerita tentang aku dan karier yang aku tapaki. Tentunya pemikiranku tentang hal ini terpengaruh dari lingkungan, pola asuh, hingga pengalamanku sendiri. Mari kita mulai dari latar belakangku terlebih dahulu.
Keluarga Tipikal Kabupaten
Kehidupan kakek-nenekku mungkin sesulit itu karena aku sering mendengar cerita jaman keluargaku susah, makan telur adalah sebuah kemewahan. Makan nasi pakai bakwan dan sambel sudah nikmat! Mana sempat mikir "duh, dobel karbo".
Kakek-nenekku hidup di zaman pasca kemerdekaan. Kondisi negara mungkin masih belum stabil. Apa-apa sulit, anak banyak, kebutuhan banyak, hidup pas-pasan. Nggak heran kalau generasi orang tuaku bercita-cita jadi PNS. Kepastian hidup dari nominal gaji bulanan setelah hidup yang susah mengumpulkan Rupiah demi Rupiah dari hari ke hari memang sebuah kehidupan yg menjanjikan.
Orang tuaku sendiri hidup di zaman orde baru. PNS/ASN ditimang dan jadi anak emas negeri ini. Status sosial menjadi seorang 'pegawai' bikin seseorang dipandang sepenuhnya. Budaya seperti ini masih langgeng di kabupaten hingga saat ini, khsusunya di tempatku tinggal. Singkatnya, mau disegani? Jadilah PNS.
Aku pun tak memungkiri kalau aku juga menikmati stabilitas kehidupan sebagai seorang anak PNS. Banyak privilese yang aku dapatkan dengan status kedua orang tuaku. Bisa dikatakan aku tumbuh di keadaan finansial yang berada di kalangan kelas menengah, sementara teman-temanku banyak yang hidup di garis marjinal.
Meskipun sebenarnya kehidupan orang tuaku tak semulus itu sebagai seorang PNS. Banyak pengorbanan dan kesulitan yang dihadapi untuk mendapatkannya. Tapi, kalau dibanding dengan orang tua teman-temanku, memang kehidupan seperti ini terlihat lebih enak.
Doktrin yang Bercokol
Hidup di kabupaten nyatanya nggak jauh beda dari orang Hindu. Ada kasta tak kasat mata yang dilanggengkan masyarakat kabupaten. Kasta tertinggi status sosial di kabupaten adalah jadi PNS. Mungkin ada pengusaha kaya raya, tapi jumlahnya nggak banyak dan mereka cenderung hidup tertutup.
Ini yang bikin kehidupan jadi ada standar kesuksesan tersendiri. Standar ini kemudian jadi doktrin terus-menerus di setiap tahap kehidupan.
Misalnya saja, aku. Idealnya, jenjang sarjana ditempuh dalam waktu 4 tahun. Kalau tidak jadi PNS, minimal BUMN atau perusahaan besar. Pantas saja banyak kampus disindir sebagai pabrik buruh intelektual. Ya, memang kita semua ini buruh selama kita bukan kaum borjuis kan?
Aku mencoba ideal. Baiklah, lulus 4 tahun dengan pengalaman. Terdengar ideal, bukan? Mungkin hal ini memang ada baiknya bagi jalur karierku. Aku tidak akan berada di posisiku hari ini jika aku tidak mengusahakan idealisme itu. Walaupun memang proses terjun dari akademisi menjadi seorang pekerja adalah fase yang berderai air mata.
Doktrin ini mungkin bertujuan bagus. Tapi dalam keburu-buruan, pemikiranku belum matang. Memikirkan ini-itu dalam keburu-buruan kadang membawaku ke keputusan yang buruk, namun ujung-ujungnya aku jadi bijak.
Semua serba buru-buru. Harus segera lulus, segera mapan, segera menikah, dan segera-degera yang lain.
Nggak Mau Jadi PNS!
Dalam keburu-buruan itu, akhirnya aku mendapatkan win-win solution atas harapan orang tuaku dan keinginanku. Bekerja di sebuah perusahaan swasta yang sudah terkenal yang juga merupakan cita-citaku. Sounds wonderful, right?
Hari ini, aku 25 tahun. Dengan karier yang cukup oke untuk orang seusiaku. Orang sepintas akan bilang, "udah tinggal nikah aja ini mah". Tapi, kok aku gini-gini aja, ya?
Rasanya aku sudah menyia-nyiakan 5 tahun umur 20-anku untuk buru-buru. Standar orang lain ternyata terasa tidak 'fit' untukku. Dan sekarang aku punya 5 tahun lagi sebelum 30.
Aku baru menyadari bahwa aku nggak mau menghabiskan masa mudaku di balik meja kantor. Usia muda ini nggak datang dua kali. Rasanya terlalu dini untuk settle, sementara dunia luar begitu luas dan terbuka.
Tadinya, aku sudah menyerahkan segala impianku untuk menjelajahi dunia, untuk melihat sisi lain planet ini. Aku merasa cukup atas apa yang aku punya, aku ingin hidup settle dengan apa saja yang ada.
Namun, itu justru terdengar terlalu idealis bagiku. Sulit untuk aku terapkan dan tanamkan pada diri sendiri. Aku suka tinggal di rumah, tapi aku tidak mau menghabiskan masa mudaku untuk diam saja.
Izinkan aku untuk sekadar bertualang. Untuk mengetahui apa yang belum kuketahui. Untuk belajar sesuatu yang tak diajarkan di instansi mana pun. Bukan untuk validasi, aku hanya ingin mengerti lebih luas dan dalam.
Tuhan, izinkan aku.


Komentar
Posting Komentar