Lost

Biarkan aku memulai tulisan ini dengan sebuah keluhan: makin hari, makin merasa tersesat dengan hidup ini.

Sebenarnya, ini hal wajar bagi orang di usia pertengahan 20-an. Mempertanyakan keputusan hidup, jati diri (lagi), harapan, bahkan sampai cita-cita. 

Bagi orang yang angin-anginan seperti aku, cukup sulit untuk menentukan apa cita-citaku. Memang sejak dahulu cita-citaku selalu berubah. Aku rasa satu-satunya konsistensi yang aku punya adalah inkonsistensi itu sendiri.

Terlalu banyak jalan yang ada di depan mata. Terlalu sendiri untuk memutuskan jalan mana yang perlu ditempuh. Aku bagaikan baru keluar dari gelembung dan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang terlalu banyak. Padahal, selama ini aku hidup di dalam gelembung, hidup berdasarkan asumsi dan permukaan yang aku lihat saja.

Dengan besar hati aku katakan aku envy dengan orang yang sudah punya tujuan tetap di hidupnya dan mau setia pada tujuan itu. Mau masuk sekolah A agar jadi B lalu hidup seperti C. Dulu kupikir, ini sangatlah stagnan dan tidak menarik. Impianku jauh lebih besar dan abstrak. Namun, aku justru hidup dalam ketidaktahuan satu ke ketidaktahuan lainnya. Aku ingin petualangan, tapi bekalku tak matang. 

Segala keputusanku berdasarkan imajinasiku. Aku sudah terlalu muak mendengar dikte orang-orang mengenai hidupku harus hidup seperti apa.

Jadilah aku si manusia serba tanggung. Tak cocok hidup di desa, namun meronta di kota. Tak ulung jadi pemikir, namun terlalu rumit menjalani hari. Si pemimpi yang selalu terbangun di ambang kesadaran.

Komentar

Postingan Populer