Teman-temanku Satu persatu Nikah...

Aku sedang membeli roti bakar kemarin malam. Seketika muncul sebuah WA melalui jendela notifikasi.

Yth. Novita Ibnati A

........

Mungkin undangan liputan, atau pemberitahuan pajak, pikirku. Tapi kalau urusan pekerjaan, kenapa kirim pesn malam-malam? Aku tergoda untuk melihat pesan itu.

Teman sebangkuku semasa SMP menikah dengan teman satu SMP. Ini satu-satunya undangan dari teman SMP yang aku terima secara personal. Aku memang tidak punya banyak teman semasa SMP. Jadi, undangan ini cukup berkesan. Memang jaman SMP aku nggak punya circle, sih.

Kaget rasanya akhir-akhir ini menerima beberapa undangan dari teman SMP, SMA, hingga teman kuliah. Tentu saja aku tidak pernah datang. Bukan bermaksud untuk menolak undangan, simply karena aku selalu ada di luar kota. Sekalipun aku ada di rumah, aku juga menghindari acara satu ini, sih.

Makin dewasa, makin paham bagaimana dunia ini bekerja. Aku juga jadi paham kenapa orang-orang yang lebih tua dariku berpikir demikian. Aku sudah tiba di masa menerima undangan teman seumuran. Biasanya kalau ada undangan, ya untuk orang tuaku. Sekarang aku sudah menjadi dewasa seutuhnya. 

Terlebih teman sejak aku kecil baru saja menerima lamaran dari teman SMPnya juga. Kadang aku pusing saat memikirkan ini. Rasanya baru kemarin lulus SMP, pakai seragam kotak-kotak warna pink lilac dan rok putih. Dulu saat punya gebetan rasanya lihat rambutnya lewat di jendela kelas saja sudah degdegan. Bisa lihat di barisan upacara saja sudah senang. Aku baru menyadari bahwa semua itu hanyalah sebuah fase.

Ternyata, ada juga yang akhirnya berjodoh dengan teman SMP. Rasanya semua percintaan jaman itu hanyalah rasa menggebu-gebu yang berlalu lalang. Ternyata di usia ini, itu adalah keputusan yang besar pengaruhnya.

Ada rasa tidak percaya ketika namaku di undangan adalah sebagai seorang dewasa yang berdiri sendiri. Aku sudah menjadi individu yang aku bangun sendiri. Rasanya overwhelming. Bahkan saat melihat nama temanku di undangan pun masih terkejut. Dulu nama kami atas-bawah di buku absen. Sekarang nama temanku tertulis di undangan itu, juga mendapat gelar dari studinya. Dia sudah menjadi seorang dewasa yang dikenal dengan pekerjaannya sekarang.

Ternyata... kita sudah dewasa, ya?

Ternyata aku sudah menjadi seorang jurnalis (aku lebih suka menyebutnya sebagai penulis). Ternyata aku sudah menjadi mbak-mbak 25 tahun yang nggak nikah-nikah. Aku sudah bukan lagi seorang anak yang ditanggung orang tuaku. Aku bertanggung jawab atas hidupku sendiri. Atas semua yang kupilih menjadi jalan hidupku.

Tidak ada yang memberi tahu bahwa jalan seorang dewasa itu sepi. Semua orang sibuk dengan hidupnya masing-masing. Teman-temanku sibuk dengan studi S2nya, dengan pasangannya, dengan rumah tangganya, dengan pekerjaan kantornya, dll. Sudah tidak ada lagi main-main, semuanya sudah berubah. Pantas saja di usia ini banyak orang yang menikah.

Sekarang aku paham kenapa di usia ini banyak orang menikah. Menuju kehidupan dengan level yang lebih tinggi. Tapi aku masih belum bisa melihat diriku 3 tahun ke depan, atau 5 tahun lagi? Aku masih belum siap menuju jenjang lebih tinggi. Di titik ini saja aku masih terkejut dan beradaptasi.

Aku jadi paham kenapa banyak orang yang pacaran bertahun-tahun tapi nikahnya dengan orang lain. Dan itu nggakpapa. Dulu aku bisa nangis dengar kisah ini meski bukan aku yang mengalami. Tapi sekarang aku paham kenapa banyak mbak-mbak nikahnya nggak sama pacarnya yang udah 8 tahun itu.

Rasanya pusing dengan semua yang datang berbarengan seperti ini. Rasanya aku baru memulai 'masa remaja'ku di usia ini. Padahal orang-orang seumuranku sudah next level. Katanya nggak ada yang terlambat di dunia ini. Semua jalan pada trek masing-masing.

Kalau begitu, apa yang aku resahkan? Apa yang membuat tidurku tak nyenyak? Aku pun tak tahu.

Komentar

Postingan Populer