Menerima Jeda

Sebenarnya aku bingung untuk memulai tulisan ini dari mana. Terlalu banyak yang berkecamuk di kepalaku dan rasanya aku tak bisa bergerak. Sudah lama aku terjebak pada kegiatan tatap-tatapan dengan layar tanpa beranjak sedikitpun menyentuh keyboard dan tak menghasilkan apa-apa setelah duduk berjam-jam.

Aku selalu berjanji untuk mencoba lebih baik di keesokan hari, namun selalu terjebak pada siklus yang sama. Membuka browser, menambah tab, mencoba planning untuk mengerjakan apa terlebih dahulu namun justru menambah terlalu banyak tab, membuat kerja komputer jadi berat, lalu not responding dan aku tak tahu, hey dari tab mana datangnya suara musik ini? Begitulah kira-kira ilustrasi bagaimana otakku bekerja. 


Musik inilah yang terdengar di otakku setiap kali pikiranku bercabang, baik secara fisik maupun mental. Ohya, akan kuceritakan terlebih dahulu tentang musik ini. Awalnya aku menggunakan musik ini untuk bekerja lebih cepat. Memang setiap mendengarkan musik ini aku selalu fokus dan bisa bekerja lebih cepat dari biasanya. Namun, entah kenapa beberapa bulan setelah menggunakannya jadi tidak efektif. Aku malah ngeblank dan panik dalam waktu yang bersamaan.

Stereotypical Gen Z

Ada yang tidak beres dan aku tidak menampik hal itu. Jujur saja aku sudah rawat jalan di poli jiwa sejak awal tahun 2022. Sejak itu aku tahu bahwa aku mengalami episode depresi, diagnosa dokternya adalah F32 yang sebenarnya cukup general. Lalu di episode yang lebih berat berubah  menjadi depresi mayor. Sungguh aku tidak ingin menjadikan hal ini sebagai tameng atas hal buruk yang aku lakukan, terkadang aku takut dicap sebagai Gen Z mental tempe yang dikit-dikit menyinggung mental health.  

Aku hanya menceritakan proses pengobatan ini pada teman-teman terdekat dan beberapa saudara saja. Mungkin ini hanya terjadi di pikiranku saja, tapi aku takut. Aku takut menceritakan ini pada keluarga lalu dianggap gila, takut membicarakan hal ini pada teman-teman/rekan kerja karena takut dicap sebagai Gen Z lebay mental tempe.

Aku takut.

Dan ketakutan itu nampaknya kini sudah menjadi nyata. Produktivitasku menurun drastis dan aku menyadarinya. Ini pun membuatku frustasi karena aku kesal pada diriku sendiri. Apa susahnya nulis? Apa susahnya sikat gigi, membuka  jendela? Apa susahnya menyetel musik bersemangat dan melanjutkan hari-hari? Begitu aja masa nggak bisa? Aku marah pada diri sendiri. Rasanya aku menghancurkan hidupku sendiri, aku melihat diriku menghacurkan hidupku, dan aku membiarkan diriku melakukannya. How could I!

Episode depresi yang aku alami ini cukup membuat hidupku terseok, membuatku membaca paragraf yang sama berkali-kali karena otakku menolak memprosesnya, membuatku tak lagi menyukai hobi-hobiku yang sangat banyak dan mudah berubah itu.

Bipolar Tipe 2

Dalamnya episode depresi ini membuatku menormalisasi fase kebalikannya. Aku merasa fase selain depresi itu normal. Aku merasakan kesenangan, aku memiliki banyak ide, aku rajin beberes kamar, rajin masak, bahkan nggak tidur karena excited dengan ide-ideku! Aku merasa inilah aku yang sebenarnya, aku yang normal, kreatif dan humoris.

Setelah pindah faskes, gejala-gejalaku jadi terdeteksi. Beda dokter beda cara, katanya. Aku dibimbing  untuk journaling dan memahami siklus-siklusku sendiri. Karena metode inilah jadi terlihat lonjakan mood yang ternyata merupakan episode hipomanik. Episode hipomanik ini mirip dengan episode mania bipolar tipe 1, tapi tidak se-ekstrim mania.

Dengan penjelasan dokter, aku justru takut jika bilang aku adalah penyintas bipolar. Aku takut jika ini  dianggap sebagai mood swing biasa sehingga aku yang lebay saja menyikapi hal ini. Bukan hal yang mudah untuk menerima hal ini, tetapi menjadi denial tidak membuatku lebih baik. Aku percaya dengan dokter, aku harus menerima ini, hidup berdampingan dengannya, dan mencoba strategi hidup yang lebih baik. 

Aku takut jika bicara mengenai mental state, penilaian orang akan bias terhadapku. Aku takut dilabeli dengan hal ini. Aku takut tidak diterima. Ada banyak hal yang menjadi ketakutanku, dan aku belum siap untuk melangkah. Aku belum siap untuk mengemban tanggungjawab apapun dalam waktu ini. Entah apakah keputusanku untuk mengambil jeda karier ini benar atau tidak. Namun, rasanya inilah hal yang harus dilakukan sekarang.

Komentar

Postingan Populer