I’m privileged, but I’m not a nepo baby


Bicara soal privileges memang seru dan membakar semangat. Istilah ini memang cukup menarik dan menimbulkan kontroversi. Jika bercermin pada diri sendiri, aku punya posisi dalam duduk perkara ini.

Aku lahir dalam keluarga yang memberikanku hak istimewa (privilege) yang lebih dibanding teman-temanku, setidaknya dalam lingkungan yang pernah aku tinggali. Bapakku adalah orang pemerintahan desa. Ibuku seorang guru. Kombinasi ini tentu mendapat posisi sosial yang cukup diperhitungkan dalam masyarakat di mana aku tinggal. Tidak menampik fakta bahwa status sosial dalam lingkungan ini masih klasis.


Aku punya akses yang lebih lebar dibanding teman-teman seumuranku. Katakanlah, aku bisa mendapat buku-buku pelajaran dengan mudah. Ibuku mendukung literasiku sejak kecil, ini juga privilege. Untuk urusan administrasi pun dengan status bapakku terbilang lebih lancar. Semua ini adalah hak istimewa yang aku dapatkan dari orang tuaku. 


Katanya, privilege itu ibarat orang melempar kertas pada tong sampah di dalam kelas. Aku duduk di barisan depan yang punya akses lebih mudah untuk melempar tepat sasaran. Keadaan dengan privilege ini tentu riskan melahirkan nepo baby. Namun untungnya, privilege yang membesarkanku mengarahkanku pada moral yang lebih kuat. 


Nepo baby memang tidak salah terlahir di keluarga penuh privilege. Yang menjadi masalah adalah, ia menggunakan privilege itu untuk keuntungan sendiri. Sementara kompas moralku tidak menuntunku ke arah itu.

Sudah berkali-kali ibuku mendesakku untuk mengikuti jejaknya menjadi seorang guru. Namun, aku punya banyak alasan untuk tidak menurutinya. Mungkin aku bisa disebut anak yang keras kepala karena tidak menuruti kemauan orang tua. Bukan karena aku tidak mau nurut, aku punya alasan sendiri yang kupegang sebagai dasar pengambilan keputusanku.


Alasan pertama aku tidak mau menjadi guru adalah, aku tidak mendapat panggilan jiwa untuk mengajar. Klise memang. Tapi percayalah bahwa kepribadianku tidak cocok untuk membaur di lingkungan guru. Baik dalam mengajar maupun dalam jabatan struktural. Aku kurang suka didikte dan diberi tutorial untuk melakukan ini-itu. Aku lebih suka mencari tahu bagaimana sesuatu bekerja dan melakukannya dengan caraku sendiri. Aku kurang suka perasaan “tidak berdaya” dalam sebuah sistem yang sebenarnya bisa diubah namun nyatanya tidak bisa diubah hanya dari posisi kita saat itu.


Alasan kedua adalah, aku tidak ingin menjadi seorang nepo baby. Yup, orang pasti akan mengecapku sebagai nepo baby dibanding orang-orang lain yang merangkak untuk mencapai posisi yang sama. Sekalipun aku memiliki kompetensi yang baik, aku tidak akan pernah dikenal sebagai diriku sendiri dan kompetensiku, melainkan akan selalu hidup di bawah bayang-bayang nama ibuku. Percayalah, itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan atas pencapaian diri, setidaknya menurutku.

Itu adalah narasi jika aku kompeten. Jika aku tidak kompeten, tentu ini menjadi bumerang bagi diriku sendiri. “Duh, anaknya bu X kok gitu aja ga bisa”. Lihatlah, keduanya mendapat sentimen yang tidak menyenangkan. Aku tidak mau menghabiskan hidupku terganggu dengan suara-suara itu.


Menjadi seorang yang punya privilege bukan berarti orang itu juga seorang nepo baby. Aku sangat bersyukur lahir di keluarga dengan privilege dan privilege itu sendiri membuatku memiliki moral anti-nepo-baby. 

Komentar

  1. Kerenn... Tetep semanagt, tetap slalu sabar, tetep slalu bersyukur...
    Semoga sukses selalu 👍👍👍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer