Di Antara Cita-Cita dan Realita Mengenai Makna Hidup
Cita-cita seseorang di Indonesia sering kali dipandang sebagai pemandu arah dalam mengembangkan diri. Banyak orang yang melihat cita-cita sebagai tujuan akhir yang harus dicapai untuk dianggap sukses dalam masyarakat. Hal ini seringkali dipengaruhi oleh tekanan sosial dan ekspektasi dari lingkungan sekitar, seperti keluarga, teman, dan masyarakat. Dalam masalah ini, cara pandangku cukup berubah seiring dengan bayak hal yang aku jalani. Setelah berpikir cukup lama dan mencoba menarasikannya, aku tiba pada beberapa poin ini.
Tirani Cita-Cita
Aku ingat bagaimana aku diperkenalkan pada konsep yang dinamakan "cita-cita". Saat itu aku masih duduk di bangku TK dan setiap bulan agustus, anak-anak akan "cosplay" dengan seragam tertentu. Dulu, aku hanya tahu profesi sebatas polisi, tentara, dokter, bidan, guru, dll yang terbatas pada profesi terpandang di budaya kabupaten. Cita-cita inilah yang menuntun seseorang untuk membentuk dan merencanakan masa depan, terkait langkah apa saja yang harus ditempuh untuk mewujudkannya.
Manusia diciptakan dinamis dan aku merasa dinamika itu mengalir deras dalam diriku. Cita-citaku selalu berubah. Bahkan hingga saat aku menulis ini, cita-citaku pun selalu berubah. Aku merasa dengan memiliki cita-cita ini sungguh membatasi diri untuk bereksplorasi. Namun, jika dipandang dari sudut pandang orang lain, mungkin aku seperti tidak tidak punya ambisi dalam hidup.
Ketika seseorang terlalu fokus pada mencapai cita-cita tertentu, mereka cenderung mengabaikan proses pengembangan diri yang lebih dalam. Sebagai contoh, seorang siswa yang bermimpi menjadi dokter mungkin akan terjebak dalam tekanan untuk mencapai nilai tinggi, mengikuti kursus tambahan, dan mengejar prestasi akademis, tanpa mempertimbangkan apakah profesinya sesuai dengan minat dan bakatnya yang sebenarnya. Akibatnya, mereka mungkin merasa terjebak dalam peran yang tidak mereka inginkan, tanpa kesempatan untuk mengeksplorasi potensi dan minat lainnya.
Dalam pengalamanku sendiri, penggalian minat dan bakat ini terbatas pada "nature" seperti tes minat bakat dengan hasil dominan otak kanan stau otak kiri, tes IQ untuk menentukan bidang mana yang cocok. Aku merasa tidak diberi kesempatan untuk menggali lebih banyak lagi sebelum hingga akhirnya settle pada bidang tertentu.
Profesi: Tujuan VS Alat
Definisi yg kabur dari cita-cita dan profesi adalah hal yang membuat orang sulit memahami esensi bertumbuh dan berkembang. Bayang semu cita-cita dan profesi ini makin dikejar justru makin samar. Cita-cita semu ini bukannya membuatku termotivasi namun justru semakin bertanya-tanya.
Cita-cita atau profesi seharusnya tidak hanya dipandang sebagai sebuah tujuan akhir, tetapi sebagai alat untuk mencapai tujuan hidup yang lebih besar.
Dulu, saat SMP aku memiliki impian untuk mendapat beasiswa berkuliah di Jepang. Aku mencari informasi mengenai beragam program yang menyediakan beasiswa penuh. Rasanya keren bisa tinggal di negara yang rapi dan maju, apalagi mendapat beasiswa. Kemudian, banyak hal yang ku alami sehingga membuatku lupa akan hal itu karena cita-citaku selalu berubah.
Setelah aku sadari sekarang, ternyata beasiswa di luar negeri itu bukanlah sebuah tujuan, melainkan alat untuk mencapai misi pribadi. Misalnya, aku ingin mengatasi sebuah masalah struktural di negeriku, maka aku bisa menggunakan beasiswa di luar negeri untuk belajar mengenai manajemen terkait hal tersebut. Sehingga beasiswa luar negeri bukanlah sebuah tujuan, tetapi alat untuk mencapai misi pribadi. Misi pribadi inilah yang seharusnya dieksplor saat sekolah dan belajar mengenal diri sendiri karena setiap orang memiliki karakter dan interest masing-masing.
Menjadi Hamba pada Bayangan Semu Status dan Gengsi:
Mengukur kesuksesan seseorang berdasarkan pada pencapaian material atau status sosial merupakan gambaran yang dangkal dan semu. Namun, di kenyataannya, hal ini masih langgeng dibudayakan. Banyak orang-orang yang menglorifikasi pencapaian tertentu dan menjadikannya sebagai standar tujuan atau standar kesuksesan.
Aku menghadapi realita orang berlomba-lomba untuk menjadi seorang ASN. Dengan status sosial ASN di budaya kabupaten yang sering dipandang mapan, penghasilan bulanan yang tetap, tidak rawan terkena phk, hingga jaminan pensiun (mungkin sekarang aturannya berbeda tetapi masih sering digaungkan). Semua itu selalu dijadikan tujuan, padahal, menjadi ASN adalah alat untuk hidup.
Kenyataannya, banyak ASN yang merasa sudah aman akhirnya bekerja asal-asalan, merasa terpandang, dan ujungnya tidak kompeten dalam bekerja. Memang tipikal ini hanyalah oknum, tapi oknum ini jumlahnya banyak. Jujur saja.
Jika itu adalah tujuan dan sudah tercapai, lantas apa? Apakah hidup berhenti di situ? Banyak orang yang terkungkung dalam rutinitas sehingga lupa atau bahkan tidak memikirkan misi pribadinya, selain menjadi orang yang mapan. Cara pandang hidup yang absurd ini terkadang membuatku relate dengan cara pandang Albert Camus mengenai hidup.
Sedikit mengenai Albert Camus, ia mengusulkan sikap mental yang mengakui absurditas hidup, tetapi tetap memilih untuk bertahan dan menghadapinya. Camus menggambarkan tokoh-tokoh yang menghadapi kehidupan dengan kesadaran akan absurditasnya. Hidup ini memang absurd.
Jujur saja. Orang Indonesia masih mudah impressed dengan pencapaian bergengsi dan melabeli diri dengan pencapaian tertentu. Salah satu yang terlihat, mobil mewah atau posisi pekerjaan yang dianggap bergengsi mungkin dapat memberikan kepuasan saat dipamerkan, tetapi tidak akan membawa kebahagiaan jangka panjang jika tidak didasarkan pada nilai-nilai yang lebih mendalam
Orang akan berlomba-lomba mengendarai mobil kinclong. Mobil inilah yang membuat orang dilabeli sebagai orang sukses. Orang lebih dipandang karena punya mobil entah itu dicicil dengan cicilan yang melilit tiap bulannya, asal dipandang berada ya dijalani saja. Standar kesuksesan semu inilah asal muasal ketidakbahagiaan yang membuat hidup rasanya tidak pernah lega.
Kesuksesan sejati tidak hanya terlihat dari apa yang kita miliki, tetapi dari bagaimana kita menjalani hidup, menjaga hubungan dengan orang lain, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.






Komentar
Posting Komentar