24

note:

Ini adalah catatan pribadi. Kutulis untuk menenangkan sel tangis di dalam otakku. 

---


"sinok kenapa sih?"(sinok, panggilan untuk anak perempuan di daerahku) Ibuku masuk ke kamarku tanpa mengetuk. 

"hah? maksudnya?" Aku bingung dengan sikap ibuku yang tiba-tiba menanyakan tentangku secara personal. 

"temen ibu udah berapa hari minta bikin syukuran buat sinok. Kata temen ibu, sinok nggak betah di rumah." Teman ibuku memang punya kemampuan lebih, mungkin kalau gen z dibilang indigo. 

"hahah ada-ada aja. Cuma suntuk aja sih kerja dari rumah diem doang" Aku santai menjawab ibuku. 

Sebenarnya, aku kaget. Entah mengapa memang akhir-akhir ini aku sering sedih tiba-tiba. Tidak bisa membereskan kamar. Bahkan pekerjaanku cukup terseok. 

Hari ini aku kembali menangisi diriku sendiri karena aku sudah kesal. Banyak pekerjaan yang belum ku selesaikan, tapi aku hanya diam dengan kepala penuh strategi namun tak ku lakukan. Rasanya ingin meledakkan kepalaku saja. 

Terlebih, aku sedih.Tinggal di lingkungan Asian yang tidak membicarakan perasaan memang membuatku menyimpan segala air mata selepas tengah malam. Saat semua orang terlelap dan keheningan hanya berteman deru pendingin ruangan.

Sebuah ironi bahwa seorang indigo mendadak memikirkan keadaanku, namun aku tak pernah membicarakannya dengan kedua orangtuaku. Bahkan saat ini pun aku menangisi hal ini, ketika keadaan sudah aman, aku menangis sejadinya.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan dalam hidupku. Aku sudah 24 tahun. Melihat teman-teman seusiaku sudah tunangan, menikah, menimang anak, ada pula yang tinggal di luar negeri bersama pacarnya, start bisnis dengan omset ratusan juta Rupiah, karier yang moncer. Katanya, jangan bandingkan diri dengan orang lain karena nggak apple-to-apple. Tapi, aku hanya bingung. Mau aku apa sih? (*) 


Komentar

Postingan Populer