I Waste My Time
Dream Job? Yes, I Dream of Labor Too.
Menjadi orang dewasa nyatanya tidak semulus itu.
Jika dilihat, aku kini memang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Awal pandemi memang merupakan salah satu titik terendah hidup yang aku lewati sendirian. Jika dilihat fast forward memang hidupku sekarang terlihat cukup sempurna dan tanpa beban.
Bagaimana tidak, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan impianku setelah berkali-kali gagal melamar, di-ghosting offering letter HRD, gagal interview yang entah berapa ratus kali. This is my dream job ever.
Setelah 1 tahun berjalan, aku pikir pekerjaan yang sejalan dengan passion itu adalah hal yang membuat hidupku lengkap. Nyatanya pekerjaan ya pekerjaan, yang membutuhkan tenaga dan pikiran untuk diselesaikan. In the end of the day, whether it's your passion or not, you will still feel tired. Tapi memang benar dalam melakukan pekerjaan se-enjoy itu. Nggak memungkiri, walaupun dikejar deadline, dikejar kecemasan mengenai pekerjaan, ada rasa puas dan bangga yang terselip di dalam pekerjaan impian. Rasanya seperti memeluk inner-childku dengan segala impian masa kecilnya.
Online Counseling
Beberapa waktu yang lalu aku memutuskan untuk berkonsultasi ke psikiater online. Pekerjaan yang aku sukai, yang aku banggakan, ternyata tidak dapat kulakukan dengan penuh. Aku merasa seperti tahi. Bahkan pernah sakit frustasinya, di suatu siang hari mendadak aku menangis meluapkan segala emosi yang ada di dalam diriku di depan laptop. Aku tidak bisa menulis sama sekali. Apakah ini yang dinamakan writer's block? Atau hanya aku yang jenuh dengan rutinitas yang hanya di dalam rumah dengan jam yang berantakan?
Aku mendapat diagnosa depresi dan kemungkinan ADHD.
Psikiater memberikanku obat anti cemas jangka pendek. Selama mengkonsumsi obat, aku tidak merasakan lonjakan emosi yang tinggi. Biasanya aku memiliki fase ketika aku merasa sangat kreatif dan melakukan segala hal di malam hingga menjelang subuh. Namun ada juga saat-saat dimana aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri ketika aku hanya berbaring di kasur, tidak tidur, tidak beraktivitas, dan tidak melakukan apapun. Aku juga impulsif. Misalkan aku sedang memiliki deadline tapi aku tiba-tiba saja mengubah layout kamarku, atau tiba-tiba waxing pada dini hari. Atau mendadak mendengarkan musik-musik metal dan merasa keren. Tiba-tiba boros menghabiskan uang karena aku membutuhkan makanan untuk memperbaiki moodku atau sekedar memberikan hadiah kepada orang-orang terdekat. Namun, ada juga masa-masa yang mana kamarku berantakan, aku tahu setiap detail inchi dan apa yang harus aku bersihkan dari kamarku, tapi tak kunjung aku bersihkan dan justru aku selalu pikirkan setiap hari.
Otakku selalu menyuruh diriku untuk segera membereskan, tapi rasanya tubuhku susah untuk disuruh.
Aku benci diriku yang seperti itu.
I Waste My Time
Aku selalu berpikir apakah aku sudah terlalu banyak menyia-nyiakan waktuku?
Seringkali aku melamun seperti saat ini tiba-tiba aku memutuskan untuk menulis ini, padahal aku punya segudang pekerjaan yang harus aku segera selesaikan. Tiba-tiba saja waktu bergulir dan waktu menunjukkan lewat jam 2 pagi.
Masa mudaku sepertinya habis dalam larutan lamunan yang entah melamunkan apa. Memikirkan hal-hal yang tidak pasti. Terkadang Aku berharap menjadi orang orang lain dengan pemikiran yang cukup sederhana dan tidak sekompleks ini. Waktuku habis karena perdebatan di dalam kepalaku. Itu yang aku pikirkan.
Berbeda dengan apa yang pikirkan. Mungkin mereka berpikir aku hanyalah orang yang tidak peduli dengan sekeliling. Bangun di siang hari dengan kamar yang nyaman. Tidak pernah memikirkan apapun. Hanya berfokus pada diri sendiri. Tapi mereka tidak tahu malam-malam ketima aku menangis seorang diri dan frustasi. Merasa kesepian. Secara impulsif memotong rambutku agar aku tidak memotong nadiku. Atau cukup mengubah warna rambut dan merasa aku menjadi pribadi yang baru.
Kakak sepupuku pernah menasihatiku agar tak melulu mengerjakan rajutan yang entah kapan selesai. Rajutan adalah percakapan dengan diriku sendiri. Terlalu banyak yang berlari di kepalaku sehingga rajutan adalah salah satu terapi untuk menjinakkan monster-monster dalam kepalaku itu. Tak ada yang melihat sisi tersebut. Terutama kakak sepupuku yang menyarankan aku untuk melakukan pekerjaan lain, side hustling, karena aku masih muda dengan potensi yang cukup bagus. Aku hanya menyia-nyiakan waktuku dengan melakukan hobi-hobiku yang bejibun.
Mungkin aku memang menyia-nyiakan waktuku. Yang entah kapan akan habis. Aku pun tak tahu apa yang harus aku lakukan dalam hidup ini. Aku terlalu bingung dengan hidup ini. Terlalu takut menghadapi apapun.
Terlalu menjadi pecundang yang habis dilumat oleh monster-monster yang ada di kepalaku.


Komentar
Posting Komentar