Sudah Tiga Pagi

Dunia rasanya terhenti. Sunyi. Memang ini sudah lewat tiga pagi. Tapi di kepala gadis itu riuh beribu suara. Ia tak bisa memilih mana yang harus dicerna. Entah suara orang yang menyakiti hatinya, alunan lagu sedih yang membuat sembilu, suara teman-temannya yang kini hanya muncul sebagai memori, atau potongan kejadian di masa lalu yang membuatnya memukul kepala.

Hening. Tangisnya pun dalam mode silent dengan getaran di bahu dan rahang yang tak kuasa menahan perasaan aneh itu. Ia hanya memandang langit-langit kamarnya. Memandang cahaya yang merambat dari celah ventilasi, atau lampu tidur yang letaknya miring.

Gadis itu terlalu takut, terlalu bingung, dan terlalu jadi pengecut. Ia lalu duduk menunduk, marah dengan dirinya sendiri. 

Seketika pintu kamar yang ukurannya tidak ada 3x3 meter itu terbuka. Seorang remaja belasan tahun masuk dengan poni lengkung dan rambut panjang yang dipotong shaggy. Ia melihat gadis 24 tahun terisak di atas ranjangnya, sedang menunduk dengan kedua tangannya menjambak rambut yang diwarna kuning yang panjangnya sedikit melewati telinga. Potongannya tidak rapi. Gadis 24 tahun itu selalu memotong rambutnya dengan harapan kesedihan turut pergi dari tubuhnya.

Gadis 24 tahun mendongak. Keduanya bertukar pandang hingga si gadis 24 tahun menyadari sesuatu. 

"Maafin aku" suara gadis 24 tahun terdengar parau, sedang si remaja berponi mendekat dan duduk di sampingnya.

Gadis 24 tahun mengelus rambut shaggy si remaja. Memegang pipinya. Tersenyum seraya perih menusuk ulu hatinya dan sungai di pipinya kembali mengalir.

"Maaf rambutmu sekarang jadi sependek ini, jadi tak legam dan anggun lagi. Maaf tubuhmu sekarang tak sesehat dulu. Maaf matamu jadi sering bengkak. Maaf untuk melepas mimpi yang sempat membuatmu bersemangat. Maaf untuk tumbuh menjadi seorang pengecut."

Si remaja memeluk gadis 24 tahun itu. Luka itu kini terbagi dua, terhubung melalui jantung yang berdekatan. 

"People make mistakes. Kamu udah lakuin sebisamu, terima kasih, ya. Terima kasih untuk tetap bertahan. untuk tetap berjalan meski setiap langkah rasanya seperti menginjak pecahan kaca. Terima kasih untuk tetap menghidupi mimpi kecil yang kita bagi bersama. Jangan merasa bersalah lagi, ya. Aku ingin kamu bahagia." si remaja menghilang.

Kini tinggal si gadis 24 tahun duduk di tepi memeluk dirinya sendiri. Mencoba berdamai dengan dirinya kini. 

Komentar

Postingan Populer