Magang bagian 1 #lifejourney
Semakin dewasa kita, semakin terbiasa kita terhadap penolakan, reaksi semesta yang tidak sesuai dengan harapan kita. Bagian hidupku dalam bab ini, ku ingat bermula dari tawaran magang sebuah media yang ku sukai. Dari berkas yang kukirim, sepertinya mereka tertarik, maka aku memenuhi janji untuk wawancara.
Aku masih ingat dengan jelas. Aku sama sekali tidak mengerti Jakarta dan harus wawancara tepat waktu. Drama macet hampir tertinggal kereta dari Bandung sudah membuatku menangis di pagi hari. Ku pasrahkan pada Tuhan. “Tuhan, jika memang hal ini adalah baik untukku, maka tunjukkanku jalan. Jika ini memang bukan untukku, maka aku ikhlas atas segala yang terjadi.” Tuhan memberi jalan dan aku benar-benar tepat waktu. Kurang lebih satu menit duduk di tempatku, kereta berjalan.
Hari-hari itu coretan di schedule boardku berdesakan dengan jadwal ujian lisan. Memang menyebalkan menjadi mahasiswa sastra asing dengan dosen yang lebih suka menguji 10-20 menit lisan per orang dibanding satu atau dua jam ujian tulis bersama-sama. Aku duduk di kereta dengan kertas-kertas berisi materi, terkadang teringat wawancara, membaca surat kabar online, menghafal puisi, dan sibuk memotret dengan ponselku tentunya.
Jakarta siang itu sangat panas seperti biasa, kontras dengan Bandung. Seharusnya aku turun di Gambir, namun tiba-tiba berinisiatif turun di Jatinegara karena kurasa itu lebih dekat dengan Jakarta Selatan. Stasiun Jatinegara tidak akan ku lupa betapa teriknya, betapa bingungnya aku sendirian berjalan tak tentu arah, untung ada ojek online dengan segala diskonnya!
Setelah melakukan pertemuan sepertinya mereka tidak mencari orang yang terlalu ‘berbeda’ sepertiku. Penelitian skripsiku mungkin tidak sejalan dengan ‘analisis’ yang mereka kehendaki, simpulku. Namun, setelah kupikir kembali, mungkin itu bukan yang terbaik untukku dari Tuhan, dan aku selalu yakin Tuhan akan memberiku solusi melalui semesta dengan cara yang lain untuk kebaikanku, asal aku memberikan terbaik yang ku mampu.
Aku kembali berjalan tak tentu arah, melewati sebuah pagar unik dengan plang, museum di tengah kebun. Ingin ke sana, namun aku ragu apakah dibuka untuk umum. Bodoh memang. Akhirnya aku bertolak ke monas, ingin sekali melihat city lights dari puncaknya, dan temanku merekomendasikan monas karena dekat dengan stasiun sehingga aku tidak perlu kesal menuggu kereta pulang dan tidak perlu buru-buru karena kejauhan.
Bodohnya lagi, aku tidak membaca jam operasional bahwa hari senin libur, akhirnya aku hanya berkeliling tak tentu arah dan duduk di pintu masuk yang tertutup. Terlihat segerombol remaja sedang bercanda, tidak mengindahkan kehadiranku, namun aku senang akan itu. Ku lewati balai kota, kedutaan Amerika, ku lihat rel menuju Gambir di atas, kementerian kelautan, stasiun Gambir, yang tidak ku tahu bahwa daerah itu akan menjadi lingkunganku bulan depannya. Aku bisa tersenyum mengingat hal ini.
Aku harap-harap cemas menanti panggilan dari media itu, dengan kesibukan ujian tentunya. Ternyata hingga akhir bulan memang tidak ada surel ataupun panggilan telepon, aku kecewa namun tidak terkejut. Mungkin memang aku ditakdirkan untuk lulus 3,5 tahun tanpa pengalaman apapun alias lulus prematur, karena aku pun masih labil. Entah mengapa saat-saat itu dosen pembimbingku yang tadinya alot dan suka berdebat dibanding membimbing penulisan skripsiku malah mendorongku untuk segera sidang akhir, beliau setujui apapun yang ku tulis. Sisa waktu seminggu untuk menyiapkan syarat sidang, menyelesaikan analisis data hingga kesimpulan dan segala tetek bengeknya. Entah mengapa, aku merasa sedih. Padahal temanku sudah sangat suportif dengan memberi iming-iming untuk dandan macam-macam sesuai keinginanku saat wisuda, mumpung dia masih belum pindah.
Aku sedih, bingung, memikirkan banyak hal, dan semakin kurang tidur. Belum beberapa hari kecemasan itu menyerang, aku mendapat telepon.
“Selamat siang, Novita, saya XXXXX dari direktorat YYYYYY Kementerian ZZZZZ. Terkait lamaran yang Novita kirimkan, kami sudah terima dan Novita bisa mulai magang pada tanggal xx Januari 2019, ya”
Aku semakin bingung, apa yang harus ku rasakan? Apa yang harus ku rencanakan? Apa yang harus ini apa yang harus itu.
Aku masih ingat dengan jelas. Aku sama sekali tidak mengerti Jakarta dan harus wawancara tepat waktu. Drama macet hampir tertinggal kereta dari Bandung sudah membuatku menangis di pagi hari. Ku pasrahkan pada Tuhan. “Tuhan, jika memang hal ini adalah baik untukku, maka tunjukkanku jalan. Jika ini memang bukan untukku, maka aku ikhlas atas segala yang terjadi.” Tuhan memberi jalan dan aku benar-benar tepat waktu. Kurang lebih satu menit duduk di tempatku, kereta berjalan.
Hari-hari itu coretan di schedule boardku berdesakan dengan jadwal ujian lisan. Memang menyebalkan menjadi mahasiswa sastra asing dengan dosen yang lebih suka menguji 10-20 menit lisan per orang dibanding satu atau dua jam ujian tulis bersama-sama. Aku duduk di kereta dengan kertas-kertas berisi materi, terkadang teringat wawancara, membaca surat kabar online, menghafal puisi, dan sibuk memotret dengan ponselku tentunya.
Jakarta siang itu sangat panas seperti biasa, kontras dengan Bandung. Seharusnya aku turun di Gambir, namun tiba-tiba berinisiatif turun di Jatinegara karena kurasa itu lebih dekat dengan Jakarta Selatan. Stasiun Jatinegara tidak akan ku lupa betapa teriknya, betapa bingungnya aku sendirian berjalan tak tentu arah, untung ada ojek online dengan segala diskonnya!
Setelah melakukan pertemuan sepertinya mereka tidak mencari orang yang terlalu ‘berbeda’ sepertiku. Penelitian skripsiku mungkin tidak sejalan dengan ‘analisis’ yang mereka kehendaki, simpulku. Namun, setelah kupikir kembali, mungkin itu bukan yang terbaik untukku dari Tuhan, dan aku selalu yakin Tuhan akan memberiku solusi melalui semesta dengan cara yang lain untuk kebaikanku, asal aku memberikan terbaik yang ku mampu.
Aku kembali berjalan tak tentu arah, melewati sebuah pagar unik dengan plang, museum di tengah kebun. Ingin ke sana, namun aku ragu apakah dibuka untuk umum. Bodoh memang. Akhirnya aku bertolak ke monas, ingin sekali melihat city lights dari puncaknya, dan temanku merekomendasikan monas karena dekat dengan stasiun sehingga aku tidak perlu kesal menuggu kereta pulang dan tidak perlu buru-buru karena kejauhan.
Bodohnya lagi, aku tidak membaca jam operasional bahwa hari senin libur, akhirnya aku hanya berkeliling tak tentu arah dan duduk di pintu masuk yang tertutup. Terlihat segerombol remaja sedang bercanda, tidak mengindahkan kehadiranku, namun aku senang akan itu. Ku lewati balai kota, kedutaan Amerika, ku lihat rel menuju Gambir di atas, kementerian kelautan, stasiun Gambir, yang tidak ku tahu bahwa daerah itu akan menjadi lingkunganku bulan depannya. Aku bisa tersenyum mengingat hal ini.
Aku harap-harap cemas menanti panggilan dari media itu, dengan kesibukan ujian tentunya. Ternyata hingga akhir bulan memang tidak ada surel ataupun panggilan telepon, aku kecewa namun tidak terkejut. Mungkin memang aku ditakdirkan untuk lulus 3,5 tahun tanpa pengalaman apapun alias lulus prematur, karena aku pun masih labil. Entah mengapa saat-saat itu dosen pembimbingku yang tadinya alot dan suka berdebat dibanding membimbing penulisan skripsiku malah mendorongku untuk segera sidang akhir, beliau setujui apapun yang ku tulis. Sisa waktu seminggu untuk menyiapkan syarat sidang, menyelesaikan analisis data hingga kesimpulan dan segala tetek bengeknya. Entah mengapa, aku merasa sedih. Padahal temanku sudah sangat suportif dengan memberi iming-iming untuk dandan macam-macam sesuai keinginanku saat wisuda, mumpung dia masih belum pindah.
Aku sedih, bingung, memikirkan banyak hal, dan semakin kurang tidur. Belum beberapa hari kecemasan itu menyerang, aku mendapat telepon.
“Selamat siang, Novita, saya XXXXX dari direktorat YYYYYY Kementerian ZZZZZ. Terkait lamaran yang Novita kirimkan, kami sudah terima dan Novita bisa mulai magang pada tanggal xx Januari 2019, ya”
Aku semakin bingung, apa yang harus ku rasakan? Apa yang harus ku rencanakan? Apa yang harus ini apa yang harus itu.


Komentar
Posting Komentar