Quarter life crisis atau hanya overthinking? #lifejourney

Akhir-akhir ini aku merasa cemas karena banyak hal. Mungkin karena bulan lalu, aku mendapatkan umur ke-21ku, sehingga aku semakin keras memikirkan umur berapa aku menyelesaikan sarjana, umur berapa aku menikah, kapan memiliki rumah, kapan seperti yang lainnya ketika menyadari banyak teman sekolah dulu sudah berseragam dan berpasang-pasangan. Sebut saja mereka orang medis yang mengencani taruna, atau pelayar, atau pria berseragam lainnya. Aku memilih untuk tidak membatasi tujuan hidup aku pada seragam karena aku muak dengan templat studio foto dengan dua burung cinta yang sedang kasmaran. Memang budaya orang kabupaten masih seperti ini.

Tumbuh di lingkungan berseragam, membuat aku tidak ingin menjadi salah satu orang berseragam tersebut karena beberapa masalah dalam keluarga yang membuat aku mengubah pandangan terhadap profesi. Aku tertarik untuk melihat dunia luar dari lingkungan aku selama 17 tahun aku hidup, aku ingin tahu kehidupan lain selain menjadi pegawai negeri yang terjamin nominal bulanannya, pensiunannya terbilang sekian rupiah, dan kehidupan terstruktur yang dijalani.

Dengan pola seperti itu, aku menanyakan pada diriku sendiri, apakah aku sekolah untuk mencari terbilang nominal setiap bulannya? Kalau seperti itu, bukankah ringan sekali harga sebuah ilmu? Apakah terbilang nominal itu adalah energiku untuk melanjutkan hidup hingga beranak-pinak? Apa yang aku lakukan dengan kehidupan dan keturunan itu? Aku teringat pernah menanyakan tujuan hidup temanku, dan ia menjawab hanya dua; menyiapkan bekal untuk kehidupan selanjutnya yang berarti menjadi seorang hamba, dan mencari kekayaan untuk tetap eksis ikut arus kapitalis. Jawaban itu selalu terngiang di otakku, meskipun aku belum sepenuh hati memasukkan jawaban seimbang itu pada jiwaku,

Setelah beberapa bulan aku berbincang mengenai tujuan hidup itu, temanku meninggal. Aku selalu berharap semoga tujuan pertama almarhumah sudah tercapai, yaitu menjadi seorang hamba yang mempunyai bekal untuk kehidupan berikutnya, meski tujuan hidup keduanya tidak terlaksana karena saat itu kami masih sama-sama sekolah dibiayai orang tua.

Meninggalnya temanku, membuat aku kembali bertanya pada diri sendiri. Bagaimana kalau tujuan hidupku belum tercapai dan waktuku sudah habis? Bukankah aku gagal dalam menjalani hidup? Aku terus bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya aku cari dalam hidup ini? Apa tujuan hidupku? Hingga aku sampai kepada pemikiran bahwa aku hidup untuk mati. Apa lagi?

Di antara hidup dan mati itu, aku percaya ada entitas yang harus kita isi melalui apa yang disebut sebagai tujuan temanku tadi yaitu menyiapkan bekal untuk kehidupan selanjutnya. Mengingat aku juga memiliki agama yang mempercayai tahap kehidupan. Kekayaan material, uang, memang kebutuhan. Tapi, apakah itu adalah tujuanku?

Aku rindu temanku yang sudah tiada, hanya dengannya aku dapat bertukar pikiran dan ideologi secara leluasa, tidak bertukar keluhan perkuliahan, atau keluhan lain. Ini membuat isi kepalaku semakin keruh dan hatiku kehilangan sebuah kepingan lagi. Satu pegangan tangan hilang, sebagian pandangan ikut kabur. Mungkin seperti itu aku mendeskripsikan keadaanku saat ini.

Jatinangor, Desember, 2019.

Komentar

Postingan Populer