Magang bagian 2

Finally diterima magang di kementerian! Tulisan ini tidak akan membahas bagaimana cara agar diterima magang di kementerian, bagaimana pengalaman trial menjadi profesi yang tidak akan aku sebutkan ini, karena banyak blog pribadi yang memuat pengalaman itu dan kalau ku tuliskan mungkin tidak akan jauh berbeda isinya. I know I’m just a small part of that and that’s not extraordinary. Jadi, ini lah ketikan yang benar-benar pribadi tapi ingin aja dipublish hahaha.

Mengapa magang, padahal prodi tidak mewajibkan? Entahlah, rasanya seperti perlu dan itu membuatku tidak bisa berhenti berpikir beberapa malam. Lalu terlintas pikiran untuk magang di sebuah Kementerian, di mana seharusnya sahabatku magang di sana sebulan setelah ia meninggal. Mungkin dengan cara itu aku dapat mengobati rinduku padanya, dapat mengerti apa yang ia pikirkan, dan menjadi pelipur lara akan kepergianya.

Meski sudah ku buat rencana yang sangat matang atas segalanya, tetap saja aku merusak rencanaku sendiri. Aku tetap tidak bisa tenang di hari pertama, lalu sederet isu kesehatan mental mencuat dari dalam diriku pada hari-hari pertama magangku. Aku benci sekali dengan hal itu, tetapi harus hidup berdampingan dan mengaturnya agar tidak menguasaiku terlalu lama. Skip mental health issue-

Ini ibarat sebuah batu apung loncatan bagiku karena aku tidak yakin apakah ini batu loncatanku betulan dan rasanya memang segonjang-ganjing itu! Aku masih tidak tahu apakah batu ini kuat menyanggaku atau aku bakalan tenggelam setelah itu, siapa yang tahu? Bukan aku kalau tidak nekat dan terjun bebas tanpa mikir. Seperti memilih program studi, but I always know it should be worth my bravery.

biar afdol foto di gedung Pancasila
  

Menjadi seorang introvert di lingkup kerja yang mayoritas ekstrovert adalah sebuah siksaan tanpa wujud setiap harinya. Sekadar sapaan ‘selamat pagi’ membuatku keringat dingin seharian, setiap gerak-gerikku terasa awkward, perasaan sensitif membuncah, dan hanya bisa mengamati sekitar tanpa bertindak.

Adalah ke-awkward-an luar biasa memiliki supervisor atau rekan kerja yang sama introvertnya denganku. Aku tidak yakin apakah benar beliau adalah supervisor magangku atau bukan karena aku terlalu pusing dengan pikiranku sendiri di hari pertama perkenalan, bahkan aku lupa pertama kali beliau datang ke hidupku (atau aku yg datang ke hidupnya?) itu bagaimana dan kapan. Seingatku aku tidak tahu namanya pada hari pertama dan beliau juga tidak tahu namaku, aku hanya memanggil ‘mas’ dan selanjutnya aku tahu semua anak magang memanggilnya ‘pak’ rasanya mau mati seketika saja. Beliau memanggilku ‘mbak’ yang luar biasa aneh lalu memanggilku dengan nama depanku padahal orang sekantor memanggilku dengan nama panggilan. Mungkin beliau juga merasa awkward.


begini kalau Pichan jadi mba-mba PiEnAis

Hari-hari itu membuatku merasa dicuekin, tidak diajak ngobrol, hanya komunikasi mengenai pekerjaan saja dan pada hari pertama aku menangis sejadi-jadinya karena penuh dengan perasaan yang aku tak tahu perasaan apa. Dicuekin membuatku cemas, apakah aku tidak berguna? Tapi lama-lama aku terbiasa (dicuekin) dan bodo amat, malah tenang karena tidak perlu takut berbuat awkward lagi dan aku terbiasa dengan tempo kerjanya.

Hal pertama yang kudapat dalam kantor yang super nyaman, bersih, dan rapi ini adalah adaptasi. Aku mati-matian melawan pikiran dan perasaanku sendiri. Berusaha untuk tidak canggung dan menghindari kesalahan. Tetap saja aku melakukan kecanggungan yang menjebakku sendiri. Supervisorku meminta telepon di mejaku, yang kuberikan hanya gagangnya. Rasanya jantungku kaget dengan kelakuanku sendiri, ingin jatuh dari tempatnya.  Karena aku tidak bisa menjadi orang lain, maka aku menjadi aku saja yang pada dasarnya malas ngobrol tidak penting. Tidak ada yang membenciku, entah jika ada nyinyiran di belakangku tapi biarlah bukan masalahku. Katanya, “kamu tu pendiam banget, mana mukanya sedih” gak tega liat mukaku.

Setelah adaptasi, yang paling krusial ku pelajari adalah waktu. Bagaimana aku bisa membuat diriku ikut arus kerja setelah arus kuliah yang berantakan dan waktu tidur tidak efektif, bagaimana aku hanya punya waktu pada hari sabtu-minggu saja dan itu harus diseimbangkan dengan teman-teman di kantor, keluarga di rumah, dan rindu akan lingkungan kuliah. Ternyata tiket perjalanan apapun ketika weekend tidak menjadi masalah, lelah perjalanan pun harus tidak dirasakan. Menjadi zombie pekerja tidak semudah diperintah atasan dan melakukannya, tetapi juga memerintah diri sendiri agar bisa seragam dengan yang lain. Menjadi bagian dalam rutinitas membuat beberapa bagian jiwaku terasa kebas, tetapi menjadi bebas juga membuatku cemas. Menjadi manusia inbetween memang dilematis.
Stressed, depressed, but well dressed ternyata memang nyata! Aku belajar untuk tetap memberikan performa terbaik ciyeee padahal pikiran benar-benar kacau karena aku pikir tidak ada yang peduli pada diriku jadiiiii jadilah bebek Rusia; kerja kerja kerja (walaupun gabut juga), tidak usah banyak alasan. Itu hanya membuat orang lain kesal.

Untuk pembelajaran yang ku kira hanya omong kosong, ternyata itu bukan kata-kata orang saja. Soft skill seperti komunikasiku terasah dalam berbagai urusan termasuk menantar-jemput tamu bulebule yang pastinya pejabat. Penggunaan komputer juga sangat berguna dalam perkantoran, untung aku tidak gaptek-gaptek amat walaupun gak bisa desain pake photoshop atau ilustrator hahaha tenang ada canva dan easelly! Mungkin toeflku tidak tembus 500 sekarang jika tidak terbiasa mendengarkan pidato berbahasa Inggris ketika magang. Walaupun pekerjaan transkrip itu hanya sedikit, aku sering kepo file-file ketika gabut, itung-itung mengasah toefl hahaha!

Pekerjaan paling ku sukai adalah mengedit buku! Walaupun teksnya formal tapi suka aja, satisfying, karena aku ingin sekali menjadi editor. Tapi kata temanku yang berkutat dalam dunia jurnalisme, perlu waktu yang lumayan merangkak nanjak terjal untuk menjadi editor. Tidak apa-apa bagiku, apapun yang masih berkaitan dengan dunia tulis menulis aku mau deh hahaha cita-cita sewaktu kecil sih jadi penulis. Aku tidak takut untuk mencoba sesuatu yang tidak ku ketahui sebelumnya, just for the sake of curiousity!

kayak orang bener aja

Dua bulan waktu yang sangat singkat jika dilihat dari sudut pandang para pegawai. Bagiku, itu perjalanan yang luar biasa. Selain aku mempelajari dunia luar, aku mempelajari diriku lebih dalam. Aku tahu bahwa batasan itu keras, tapi aku bisa menjadi lentur agar tidak sakit ketika terbentur batasan itu. Ingat kata widji thukul, terbentur, terbentur, terbentuk! Ajur juga bentuk kan?

Komentar

Postingan Populer