Bejana tanpa Renjana
Banyak orang yang memberikan tatapan heran padaku ketika aku mengekspose bahwa aku nggak punya ambisi apa-apa. Hidupku ya gini-gini aja, keinginanku: nggak ada.
Apakah aku ingin liburan ke luar negeri? Nggak pengen. Apakah aku ingin punya banyak uang? Emang sih uang kebutuhan, tapi aku nggak pengen jadi orang yang hustling demi dapat duit banyak. Apakah aku ingin punya pekerjaan yang terpandang? Aku cuma pengen melakukan apa yang aku sukai.
Entah sejak kapan aku melepas segala ambisi yang pernah membuat semangatku terbakar. Dulu aku ambisius. Dulu rasanya ada trigger yang membuatku ingin meraih ini dan itu. Kini rasanya semua itu nggak ada artinya. Apa yang berarti sekarang? Rasanya nggak ada,
Rasanya udah nggak ada yang benar-benar membuatku bahagia. Tapi kalau bilang begini, pasti aku dikatain, "kamu tuh kurang bersyukur".
Setiap malam aku mencoba menuliskan 5 hal yang aku syukuri hari ini, (ya mungkin bagi orang-orang yang ngatain aku kurang kali ya? haha). Setiap malam memang aku merasa positif saat bersyukur. Tapi aku nggak pernah bersukur karena ketidak beruntungan orang lain (lain kali aku bahas). Aku bersyukur karena apa yang aku punya dan lewati hari itu tanpa membandingkan dengan orang lain. Rasanya lebih mindful.
Tapi apakah itu otomatis membuatku lebih bahagia dan bersemangat untuk meraih sesuatu? Enggak juga.
Saat melihat teman-temanku yang memiliki banyak 'keinginan' seperti ingin jadi PNS, ingin liburan ke luar negeri, ingin ini dan itu. Aku justru bingung. Setelah itu apa? Apakah setelah itu kebahagiaan akan selalu ada? Bagaimana kalau pencapaian itu tak se-membahagiakan itu?
Katakanlah, dulu aku sempat terobsesi ingin masuk sebuah sekolah tinggi kedinasan, aku berambisi memiliki nilai sekian, Aku benar-benar go for it, hingga aku dapat juara. Tapi setelah itu apa? Aku nggak merasa bahagia. Aku justru bingung dengan pencapaian itu. Kemudian aku mencari obsesi lain.
Setelah itu, aku terobsesi untuk lolos SBMPTN dan belajar program studi yang nggak akan terpikir orang. Aku bahkan belajar jauh-jauh waktu sebelum SBMPTN diumumkan kapan! Hingga akhirnya, aku lolos juga. Tapi setelah itu apa? Aku kembali bingung.
Bukan aku mau sombong karena aku bisa mendapat apa yang aku mau. Tapi aku cuma bingung.
Dulu, aku manusia seutuhnya dengan perasaan senang, bahagia, dan memiliki beragam keinginan.
Suara-suara di kepalaku tak hentinya berbicara, berdiskusi, terkadang berdebat dengan sendirinya. Hingga kini yang tersisa hanyalah aku, si bejana tanpa renjana.
Tak hidup, namun juga tak mati. Tak berpartisipasi dengan apapun yang dirayakan semesta. Tak jua hancur meski dihimpit kehampaan.
Aku: si bejana tanpa renjana, babak belur dihantam kebingungan.
| Fihi Ma Fihi, Jalaludin Rumi. |


Komentar
Posting Komentar