Ew, Feelings!

Sudah beberapa bulan ini aku menangis hingga subuh. Bahkan aku berkali-kali konsultasi online dengan psikiater maupun psikolog. Semua psikiater online menyarankanku tatap muka dengan psikiater offline, sementara saran psikolog online terlalu abstrak untuk kumulai sendiri. 

Namun, aku menjalani saran psikolog untuk journaling, sorting out masalah-masalahku dari yang terkecil. Aku mencoba. Namun, aku masih sulit mendefinisikan perasaanku sendiri, sulit mengenali perasaan yang kurasa. 

Ketika aku menangis, jangan tanya mengapa aku menangis dan mencoba memberi solusi atas masalah tersebut. Sungguh, akan selalu ada hal yang aku sedihkan, yang aku pikirkan, yang aku permasalahan dalam otakku. Beberapa psikiater menjelaskan bahwa ketidakseimbangan di otak lah penyebab ketidakstabilan emosiku. Oleh sebab itu aku memerlukan terapi medis lebih lanjut, sebab resep online hanya sementara dan diperlukan observasi mendalam.

Singkatnya, aku sering menangis ketika sendirian. Namun, aku juga sering tak merasakan apa-apa, tidak bahagia namun juga tidak sedih. Hal ini cukup membingungkan. Aku tidak yakin apakah ini merupakan kesepian, tapi aku sudah berteman dengan sepi sejak dahulu. Berteman dengan isi kepalaku sendiri, aku ingat bahwa aku selalu bicara pada diriku sendiri.

Orang yang baru mengenalku mungkin merasa aku pendiam. Sebenarnya aku suka berbicara. Bahkan perbincangan bisa membuatku merasa "charged", asal aku bicara secara personal dengan orang-orang terdekat saja.

Kali ini aku ingin berterima kasih. Untuk orang yang mengajakku bicara, ketika orang lain keburu mengecapku sombong. Untuk orang yang meluangkan waktunya berbincang denganku, ketika orang di usia ini sibuk dengan kehidupannya masing-masing.

Terima kasih banyak. 

Komentar

Postingan Populer