Kabur ke Jogja!
Aku sudah setahun lebih berdiam diri dan sibuk WFH. Awalnya seneng WFH. Nggak perlu kos, nggak perlu bingung nyari makan, nggak perlu jauh dari orang tua. Tapi, namanya titik jenuh itu nyata. Jam biologisku kacau dan berimbas pada pekerjaanku yang berantakan.
Bekerja di industri kreatif memang menyenangkan. Tapi tetep, namanya juga kerja. Pasti ada nggak enaknya. Yup, pas lagi buntu emang sering ide nggak mau keluar, makin buntu lagi. Jadilah lingkaran syaiton yang tiada ujung. Solusinya? Liburan!
Kupikir "kurang piknik" itu cuma bercandaan receh aja. Tapi ternyata aku mengalaminya juga. Jadi, aku memutuskan untuk bertolak ke Jogja. Kebetulan temanku yang juga sama-sama reporter ingin liburan juga karena kita mengeluhkan masalah yang nggak jauh beda. Akhirnya, jadilah reuni dadakan dengan beberapa teman yang juga ada di Jogja.
Aku udah excited sejak mengajukan cuti di akhir Januari. Perjalanan ini beda. Untuk pertama kalinya seumur hidup, aku memutuskan untuk naik bus. Sebenarnya, dari rumahku harusnya aku sudah naik bus dari terminal Weleri. Tapi aku takut mabuk darat karena perjalanan Weleri-Sukorejo begitu meliuk. Parahnya, hidungku sensitif dan kebanyakan bus Weleri-Sukorejo sudah tua dan bau besi. Membayangkannya saja aku sudah mual. Lalu aku diantar bapak ke terminal Sukorejo. Aku tetap saja mabuk darat karena perjalanan.
| busnya mas Rezza Putra |
Dari Terminal Sukorejo, aku naik bus jurusan Magelang. Perjalanan memakan waktu hampir 3 jam dan tarifnya Rp30.000. Sudah naik dari info temanku yang sebelumnya hanya Rp20.000 saja.
Di daerahku, bus macam ini akrab disapa "bus endel". Tanpa AC, dengan lagu dangdut diputar pada speaker sember yang bassnya menggetarkan jiwa. Malam sebelumnya, aku nge-grill bareng teman-temanku sampai jam 12 malam. Baru bisa tidur lewat jam 2 pagi dan subuh aku sudah mulai bersiap. Di jalan, aku terkantuk dan beberapa kali tertidur, namun sering terbangun karena hp sopir yang bunyi. Entah kenapa sopir suka banget teleponan.
| habis mabuk kepayang tetep selfie dulu |
Di bus aku bertemu beragam orang dengan segala kesibukannya. Aku hampir gila memikirkan, wah, orang yang aku temui di bus mungkin hanya figuran di hidupku yang kutemui hanya sejenak, tapi mereka punya kehidupannya masing-masing sama sepertiku. Siapa yang menunggu mereka dari perjalanan ini, ya? Apa yang mereka lakukan setelah ini?
Dengan isi bus yang campur aduk, beragam orang dari beragam kalangan, aku tahu aku ber-privilege. Begitu kata gen Z yang suka ribut di twitter. Privilege ini sejelas mereka tidak punya pilihan berkendara sehingga memilih bus itu, sementara aku, memiliki beragam pilihan berkendara tapi aku memilih bus itu untuk perjalanan.
Bukan aku ingin bersyukur karena melihat orang yang berada lebih "bawah" dariku. Aku ingin merasakan hidup yang lebih luas. Perjalanan ini bagiku adalah chaos in order, chaos dalam sebuah tempurung kehidupanku yang begitu-begitu saja. Chaos yang membuatku merasakan emosi lain, merenung lebih dalam, dan menemukan apa pun.
Perjalanan ini menunjukan bahwa di dunia ini kita tidak menderita sendirian. Bahwa di dunia ini, kita menghadapi neraka yang berbeda dengan kadar masing-masing. Terkadang neraka itu sejelas mata memandang, namun ada pula neraka yang tak terlihat mata awam.
Ngelantur jauh banget!
Yup, jadi sesampainya di terminal Tidar Magelang, aku bingung. Baru kali ini aku menginjakkan kaki di terminal ini. Sendirian. Aku menenteng helm yang kubawa agar di Jogja bisa langsung nebeng tanpa ribet, dan tentunya ransel gembolan bekal bajuku 5 hari ke depan. Hari itu Jumat, 4 Februari 2022. Terminal cukup sepi karena banyak yang bersiap solat jumat.
Aku duduk di pinggiran kios, meniru orang-orang yang baru turun dari bus dan menunggu bus lainnya. Setelah beberapa lama, datang bus yang menuju Yogyakarta. Aku bergegas masuk dan meletakkan tas dan helm. Bus ini ternyata dari Semarang via Magelang. Perjalanan dari Magelang kira-kira satu jam dengan tarif Rp20.000.
Aku turun di terminal Jombor. Sesaat sebelum memasuki daerah terminal, kenek memberi kode bahwa mereka nggak ke Jombor. Aku panik! Tentu saja! Aku berpikir kalau bus ini nggak berhenti di Jombor, artinya aku turun di Giwangan, jauh banget! Padahal temanku sudah menunggu di Mcd Jombor sejak ia selesai salat Jumat.
Aku trauma dulu pernah nyasar sampai Ciputat gara-gara busnya hanya berhenti sejenak di luar terminal Kampung Rambutan. Kupikir busnya akan masuk tapi ternyata aku terbawa sampai Ciputat.
"Pak! Pak! Saya turun di Jombor!" Aku sontak berdiri memanggil kenek. Sang kenek hanya bingung melihatku.
"Kita sama mbak, saya juga turun di Jombor. Cuma busnya nggak masuk terminal. Tapi nanti pasti berhenti di Jombor kok." mbak-mbak sebahku memberi penjelasan. Baiklah aku memang bodoh.
"Oh gitu ya mbak, kirain bablas" aku kikuk.
"Banyak yang turun nanti, cuma nggak masuk terminal biar nggak muter bisnya. Mbak mau ke mana?"
"Ehmm.. ke temen" sesaat aku menyadari bahea itu jawaban yang makin membuatku terlihat bodoh.
Tapi biarlah. Lagipula aku juga nggak tahu daerah penginapanku nanti di mana. Aku bodo amat. Mereka akan melupakanku.
Sesampainya di Jombor, aku jalan menuju Mcd dan mencari temanku. Aku menyempatkan makan terlebih dahulu karena sudah kelaparan. Tentu, sarapanku kan sudah aku muntahkan!
Setelah itu kami menuju penginapan, aku langsung bergabung meeting karena hari itu memang masih bekerja. Begini keuntungan remote working. Walaupun tetap saja pusing, setidaknya bisa fleksibel.
Baru perjalanan pergi sudah sepanjang ini tulisanku. Baiklah. Akan ku tulis di lain post untuk selanjutnya. Sudah 1:16 ketika aku lihat jam. Aku sedang mencoba memperbaiki jam tidur sih, jadi aku mau tidur dulu. Ciao!


Komentar
Posting Komentar